RSS

Arsip Kategori: Kampus UIN Jakarta

Segala macam aktivitas UIN yang pernah diikuti penulis…..

Pendidikan dan Penyesuaian diri

ABSTRAKSI

            Siapapun dia, untuk pertama kalinya mempelajari Sosiologi Pendidikan maka sesungguhnya secara tidak sadar dia telah berada dalam alam sosiologi pendidikan itu sendiri. Segala pengalaman manusia -semenjak buaian sampai liang lahat- sebenarnya mengandung unsur sosiologi dan pendidikan yang amat luas. Dapat dilihat dari interaksi dirinya dan orangtuanya, tetangga dan masyarakat lainnya. Terlihat disana adanya hubungan timbal balik diantara dirinya dan manusia lainnya. Inilah yang umumnya disebut sebagai bahasan sosiologi.

            Setiap peserta didik dalam pendidikan formal, tentunya akan menghasilkan output yang berbeda-beda. Hal ini bukan hanya karena pebedaan karakteristik dan bakat saja, akan tetapi karena pengaruh lingkungan sosial yang berlainan. Peserta didik datang ke sekolah/kampus dengan membawa berbagai daya sosial yang saling berlainan satu sama lain. Dengan memahami hal ini, penyelenggara pendidikan formal (guru/dosen, ustadz, dan lainnya) maupun informal (abang, kakak, orangtua, tokoh masyarakat dan lainnya) tentunya akan dituntut untuk lebih bijak dalam mendidik -baik formal maupun informal- seseorang. Sebab dalam perkembangannya, setiap peserta didik harus menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Jika hal ini tidak dicermati oleh penyelenggara pendidikan niscaya dia akan diperlakukan dengan sewenang-wenang atas nama institusi dan lainnya. Hal inilah yang disebut Paulo Freire sebagai distorsi pendidikan.

           

BAB II

PENDAHULUAN

            Sebelum lebih jauh memasuki zona pembahasan, alangkah lebih baiknya jika terlebih dahulu diketahui definisi dari sosiologi, pendidikan, sosiologi pendidikan, dan definisi penyesuaian diri dalam konteks sosiologi pendidikan.

            Pitirim Sorokin -sebagai mana yang dikutip Soerjono Soekanto- berpendapat,[1] bahwa sosiologi berarti suatu ilmu yang mempelajari tiga hal: (1) Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial, (2) Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala non-sosial, dan (3) Ciri-ciri umum semua jenis gejala-gejala sosial.

            Pendidikan menurut kamus besar bahasa Indonesia[2] berarti: proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan, preses, perbuatan, cara mendidik.

            Sosiologi Pendidikan berarti disiplin ilmu yang membahas tentang berbagai macam gejala umum sosial yang terdapat dalam pendidikan. Atau bahasa lainnya, sosiologi pendidikan berarti tinjauan sosiologis terhadap proses pendidikan.[3]

            Sedangkan penyesuaian diri (adjustment/adaptation) didefinisikan oleh Prof. DR. S.Nasution, MA,[4] ialah sebagai proses sosialisasi. Sedangkan sosialisasi yang dimaksud olehnya ialah: proses membimbing individu ke dalam dunia sosial.

Jadi secara terminologi dapat disimpulkan, bahwasanya penyesuaian diri dalam konteks pendidikan formal ialah: proses pembiasaan (adaptasi/sosialisasi/ adjustment) peserta didik terhadap lembaga pendidikan secara makro. Atau kemungkinan juga bisa juga didefinisikan: proses pembiasaan penyelenggara pendidikan untuk membimbing peserta didik mencapai target pendidikan dengan mendidik, mengajar dan/atau melatih. Serta proses timbal balik antara sosio kultural mayarakat, penyelenggara pendidikan, peserta didik dan lainnya.

Mungkin jika diilustrasikan, definisi tersebut barangkali akan terlihat seperti dibawah ini:

 

KETERANGAN:

 

                        =          Akses instruksi/adaptasi Atasan secara langsung kepada penyelenggara pendidikan. Atau sosialisasi penyelenggara pendidikan kepada peserta didik untuk mencapai target pendidikan yang disesuaikan dengan sosio kultural masyarakat dan lainnya.

                        =          Akses langsung sosialisasi peserta didik dengan teman sejawatnya di sekolah. Atau Akses Langsung Atasan penyelenggara pendidikan dengan sosio kultural masyarakat dan lainnya.

                        =          Akses tidak langsung dari Atasan penyelenggara pendidikan kepada peserta didik. Atau akses tidak langsung dari sosio kultural masyarakat dan lainnya kepada penyelenggara pendidikan.

                        =          Adaptasi/Penyesuaian diri peserta didik kepada atasan penyelenggara pendidikan dan sosio kultural masyarakat dan lainnya secara langsung atau tidak langsung.

                        =          Adaptasi/Penyesuaian diri peserta didik kepada penyelenggara pendidikan atau atasannya secara langsung.

BAB III

PENYESUAIAN DIRI PESERTA DIDIK (STUDENT ADJUSTMENT/ ADAPTATION/SOCIALIZATION)

 

A. PROSES PENYESUAIAN DIRI

            Penyesuaian diri ada dua format: (1) autoplastis (auto = sendiri, plastis = dibentuk), dan (2) aloplastis (alo = yang lain, plastis = dibentuk). Autoplastis secara terminologi berarti mengubah diri (adaptasi/sosialisasi, pen) sesuai dengan lingkungan. Sedangkan aloplastis berarti mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan) diri. [5]

            Contoh autoplastis adalah mahasiswa UIN Jakarta yang mendapat kesempatan menuntut ilmu S2 di perantauan. Maka mahasiswa tersebut harus menyesuaikan diri dengan sosiokultural yang ada dan geografis tentunya. Semisal dia harus memakai bahasa Inggris (jika di Eropa/Amerika) atau bahasa Arab (jika di kawasan Timur Tengah) dan seterusnya. Sedangkan aloplastis contohnya adalah mahasiswa tersebut ketika sampai pada tempat penginapannya (kost dan lain sebagainya) maka dia mengganti segala apa yang ada di kamarnya sesuai dengan keinginannya, semisal warna sarung bantal yang berbeda, mencat tembok, dan seterusnya. Dan dalam pembahasan selanjutnya yang menjadi stressing adalah autoplastis.

 

B. DELAPAN ASPEK PENYESUAIAN DIRI

Menurut hasil studi Davis dan Forsythe (1984), dalam kehidupan remaja terdapat delapan aspek yang mempengaruhi penyesuaian diri, yaitu (1) keluarga, (2) lingkungan, (3) kepribadian, (4) rekreasi, (5) pergaulan, (6) pendidikan, (7) solidaritas, dan (8) pekerjaan.[6]

  1. Keluarga – Keluarga merupakan tempat pertama bagi anak dalam mendapatkan pendidikan. Kepuasan psikis yang diperoleh anak dalam keluarga akan sangat menentukan bagaimana ia akan bereaksi terhadap lingkungan. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang tidak harmonis atau broken home dimana anak tak mendapatkan kepuasan psikis yang cukup, maka anak akan sulit mengembangkan penyesuaian dirinya. Hal ini dapat terlihat dari (a) kurang adanya saling pengertian (low mutual understanding), (b) kurang mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan orangtua dan saudara, (c) kurang mampu berkomunikasi secara sehat, (d) kurang mampu mandiri, (e) kurang mampu memberi dan menerima sesama saudara, (f) kurang mampu bekerjasama, dan (g) kurang mampu mengadakan hubungan yang baik. Untuk itu, orangtua mesti menjaga agar keluarga tetap harmonis. Keharmonisan tidaklah selalu identik dengan adanya orangtua “utuh” -ada ayah dan ibu-, sebab dalam banyak kasus orangtua single terbukti dapat berfungsi efektif dalam membantu perkembangan psikososial anak. Hal yang paling penting diperhatikan orangtua adalah menciptakan suasana demokratis dalam keluarga sehingga remaja dapat menjalin komunikasi yang baik dengan orangtua maupun saudara-saudaranya. Dengan adanya komunikasi timbal balik antara anak dan orang tua maka segala konflik yang timbul akan mudah diatasi. Sebaliknya, komunikasi yang kaku, dingin, terbatas, menekan, penuh otoritas, hanya akan memunculkan berbagai konflik yang berkepanjangan sehingga suasana menjadi tegang, panas, emosional, sehingga dapat menyebabkan hubungan sosial antara satu sama lain menjadi rusak.
  2. Lingkungan – Sejak dini anak harus sudah diperkenalkan dengan lingkungan. Lingkungan dalam batasan ini meliputi lingkungan fisik (rumah, pekarangan) dan lingkungan sosial (tetangga), lingkungan keluarga (keluarga primer dan sekunder), lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat luas. Sejak dini anak sudah mesti mengetahui bahwa dia memiliki lingkungan sosial yang luas, tidak hanya terdiri dari orangtua, saudara, atau kakek dan nenek saja.
  3. Kepribadian – Secara umum penampilan sering diindentikkan dengan manifestasi dari kepribadian seseorang, namun sebenarnya tidak. Karena apa yang tampil tidak selalu menggambarkan pribadi yang sebenarnya (bukan aku yang sebenarnya). Dalam hal ini, remaja hendaknya tidak menilai seseorang berdasarkan penampilan semata, sehingga orang yang memiliki penampilan tidak menarik cenderung dikucilkan. Kepribadian disini sangat mempengaruhi penyesuaian individu.
  4. Rekreasi – Rekreasi merupakan kebutuhan sekunder yang sebaiknya dapat terpenuhi. Dengan rekreasi seseorang akan merasa mendapat kesegaran fisik maupun psikis, sehingga terlepas dari rasa capai, bosan, monoton serta mendapatkan semangat baru untuk mendapatkan penyesuaian dirinya dengan baik.
  5. Pergaulan – Untuk dapat menjalankan peran menurut jenis kelamin, maka anak dan remaja seyogyanya tidak dibatasi pergaulannya hanya dengan teman-teman yang memiliki jenis kelamin yang sama. Pergaulan dengan lawan jenis akan memudahkan anak dalam mengidentifikasi sex role behavior yang menjadi sangat penting dalam persiapan berkeluarga.
  6. Pendidikan – Pada dasarnya sekolah mengajarkan berbagai penyesuaian diri kepada anak. Salah satunya adalah penyesuaian diri yang dikaitkan dengan cara-cara belajar yang efisien dan berbagai teknik belajar sesuai dengan jenis pelajarannya. Peran orangtua di sini, menjaga agar penyesuaian diri tersebut tetap dimiliki oleh anak atau remaja dan dikembangkan terus-menerus sesuai tahap perkembangannya.
  7. Solidaritas – Pada masa remaja, peran kelompok dan teman-teman amatlah besar. Seringkali remaja bahkan lebih mementingkan urusan kelompok dibandingkan urusan dengan keluarganya. Hal tersebut merupakan suatu yang normal sejauh kegiatan yang dilakukan remaja dan kelompoknya bertujuan positif dan tidak merugikan orang lain. Orangtua perlu memberikan dukungan sekaligus pengawasan agar remaja dapat memiliki pergaulan yang luas dan bermanfaat bagi perkembangan psikososialnya.
  8. Pekerjaan – Cepat atau lambat, setiap orang pasti akan menghadapi dunia kerja. Keterampilan sosial untuk memilih lapangan kerja sebenarnya telah disiapkan sejak anak masuk sekolah dasar. Melalui berbagai pelajaran di sekolah mereka telah mengenal berbagai lapangan pekerjaan yang ada dalam masyarakat. Setelah masuk SMU, mereka dapat bimbingan karier untuk mengarahkan karier masa depan. Dengan memahami lapangan kerja dan keterampilan sosial yang dibutuhkan, maka remaja yang terpaksa tidak dapat melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi akan dapat bersiap untuk bekerja.

Mungkin masih banyak cara lain yang bisa dipergunakan untuk meningkatkan penyesuaian dirinya. Satu hal yang harus selalu diingat, bahwa dengan membantu remaja dalam mengembangkan keterampilan sosial berarti telah membantu mereka dalam menemukan dirinya sendiri sehingga mampu berperilaku sesuai norma yang berlaku.

 

C. CARA MERAIH PENYESUAIAN DIRI YANG SEHAT

Penyesuaian diri yang baik, yang selalu ingin diraih setiap orang, tidak akan dapat tercapai, kecuali bila kehidupan orang tersebut benar-benar terhindar dari tekanan, kegoncangan dan ketegangan jiwa yang bermacam-macam. Pun orang tersebut mampu menghadapi kesukaran dengan cara objektif serta berpengaruh bagi kehidupannya, serta menikmati kehidupannya dengan stabil, tenang, merasa senang, tertarik untuk bekerja, dan berprestasi.

Pada dasarnya penyesuaian diri melibatkan individu dengan lingkungannya. Beberapa lingkungan yang dianggap dapat menciptakan penyesuaian diri yang cukup sehat bagi remaja dapat diringkas sebagai berikut ini:

  1. Lingkungan Keluarga – Semua konflik dan tekanan yang ada dapat dihindarkan atau dipecahkan bila individu dibesarkan dalam keluarga dimana terdapat keamanan, cinta, respek, toleransi dan kehangatan. Penyesuaian diri akan jadi lebih baik bila dalam keluarga individu merasakan bahwa kehidupannya berarti. Rasa dekat dengan keluarga adalah salah satu kebutuhan pokok bagi perkembangan jiwa seorang individu. Dalam praktiknya, banyak orangtua yang mengabaikannya dengan alasan mengejar karir dan mencari penghasilan yang besar demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Hal ini sering ditanggapi negatif oleh anak dengan merasa bahwa dirinya tidak disayangi, diremehkan bahkan dibenci. Jika ini terjadi berulang dalam jangka waktu panjang (terutama pada masa kanak-kanak), maka akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan individu dalam menyesuaikan diri kelak. Meski bagi remaja hal ini kurang berpengaruh, tidak menutup kemungkinan kondisi tersebut akan membuat diri remaja tertekan, cemas dan stres. Berdasarkan kenyataan tersebut maka pemenuhan kebutuhan anak akan rasa kekeluargaan harus diperhatikan. Orangtua harus terus berusaha untuk meningkatkan kualitas pengasuhan, pengawasan dan penjagaan pada anaknya, jangan semata-mata menyerahkannya pada pembantu. Jangan sampai semua urusan makan dan pakaian diserahkan pada orang lain karena hal demikian dapat membuat anak tidak memiliki rasa aman. Lingkungan keluarga juga merupakan lahan untuk mengembangkan berbagai kemampuan, yang dipelajari melalui permainan, senda gurau, sandiwara dan pengalaman sehari-hari dalam keluarga. Tidak diragukan lagi bahwa dorongan semangat dan persaingan antara anggota keluarga yang dilakukan secara sehat memiliki pengaruh yang penting dalam perkembangan kejiwaan seorang individu. Oleh sebab itu, orangtua sebaiknya jangan menghadapkan individu pada hal-hal yang tidak dimengerti olehnya atau sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan olehnya, sebab hal tersebut memupuk rasa putus asa pada jiwa individu tersebut.
  2. Lingkungan Teman Sebaya – Begitu pula dalam kehidupan pertemanan, pembentukan hubungan yang erat diantara kawan-kawan makin penting pada masa remaja dibandingkan masa-masa lainnya. Suatu hal yang sulit bagi remaja menjauh dari temannya, individu mencurahkan kepada teman-temannya apa yang tersimpan di dalam hatinya, dari angan-angan, pemikiran dan perasaan. Ia mengungkapkan kepada mereka secara bebas tentang rencananya, cita-citanya dan dorongan-dorongannya. Dalam semua itu individu menemukan telinga yang mau mendengarkan apa yang dikatakannya dan hati yang terbuka untuk bersatu dengannya. Dengan demikian, pengertian yang diterima dari temannya akan membantu dirinya dalam penerimaan terhadap keadaan dirinya sendiri, ini sangat membantu diri individu dalam memahami pola-pola dan ciri-ciri yang menjadikan dirinya berbeda dari orang lain. Makin mengerti ia akan dirinya maka individu akan makin meningkat kebutuhannya untuk berusaha untuk menerima dirinya dan mengetahui kekuatan dan kelemahannya. Dengan begitu, ia akan menemukan cara penyesuaian diri yang tepat sessuai dengan potensi yang dimilikinya.
  3. Lembaga pendidikan dan unsur-unsurnya – Sekolah punya tugas yang tidak hanya terbatas pada masalah pengetahuan dan informasi saja, tetapi juga mencakup tanggungjawab pendidikan secara luas. Pun dengan guru, tugasnya tidak hanya mengajar, juga berperan sebagai pendidik yang menjadi pembentuk masa depan, ia adalah langkah pertama dalam pembentukan kehidupan yang menuntut individu untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan. Pendidikan modern menuntut guru atau pendidik untuk mengamati perkembangan individu dan mampu menyusun sistem pendidikan sesuai dengan perkembangan tersebut. Dalam pengertian ini berarti proses pendidikan merupakan penciptaan penyesuaian antara individu dengan nilai-nilai yang diharuskan oleh lingkungan menurut kepentingan perkembangan dan spiritual individu. Keberhasilan proses ini sangat bergantung pada cara kerja dan metode yang digunakan oleh pendidik dalam penyesuaian tersebut. Jadi disini guru sangat berperan penting dalam pembentukan kemampuan penyesuaian diri individu. Pendidikan remaja hendaknya tidak didasarkan atas tekanan atau sejumlah bentuk kekerasan dan paksaan, karena pola pendidikan seperti itu hanya akan membawa kepada pertentangan antara orang dewasa dengan anak-anak sekolah. Jika para remaja merasa bahwa mereka disayangi dan diterima sebagai teman dalam proses pendidikan dan pengembangan mereka, maka tidak akan ada kesempatan untuk terjadi pertentangan antar generasi.[7] Sekolah mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses penyesuaian diri individu, meskipun sekolah hanya merupakan salah satu lembaga yang bertanggung jawab atas pendidikan individu. Individu mengalami perubahan dalam kelakuan sosial setelah dia masuk sekolah. Di rumah dia hanya bergaul dengan orang-orang dengan jumlah terbatas, terutama dengan anggota keluarga dan tetangga. Di rumah banyak menuntut suasana informal, dan biasanya anak terus dimanja dan diperhatikan cukup oleh orangtuanya. Namun di sekolah, dia tidaklah menjadi individu yang istimewa lagi sebagaimana di rumah. Dia hanya menjadi satu diantara puluhan peserta didik lainnya di dalam kelas. Dan otomatis, penyelenggara pendidikan tidak mungkin memberikan perhatian ful terhadap dirinya, karena prinsip pendidikan adalah mementingkan kolektif dari individu. Dengan suasana lembaga pendidikan yang demikian, lambat laun egosentrik yang ada pada individu peserta didik tersebut akan mulai berkurang tensinya, sehingga lambat laun akallah yang ‘berbicara’, bukan ego semata.

Ringkasnya, individu peserta didik dalam menyesuaikan diri (sosialisasi) dengan pendidikan di sekolah berorientasi pada berberapa hal berikut ini: (1) keluarga, (2) teman sebaya, (3) lembaga pendidikan dan unsur-unsurnya (guru, materi pelajaran, media pengajaran, metode pengajaran, dan  evaluasi pengajaran).[8]Namun yang tersulit diantara semunya adalah penyesuaian terhadap guru. Dilihat dari sisi ini, terlihat betapa pentingnya kedudukan guru dalam proses belajar mengajar. Prestasi anak didik dipengaruhi oleh banyak faktor, namun yang paling menentukan adalah faktor guru[9] dan motivasi.[10]

 

D. KESULITAN PENYESUAIAN DIRI

            Proses penyesuaian diri tidaklah selalu berjalan dengan lancar karena adanya sejumlah kesulitan, antara lain:

1)       Adanya kesulitan komunikasi, yakni individu tersebut kurang/tidak memahami sama sekali apa yang diharapkan daripadanya. Hal ini akan terjadi bila individu tersebut kurang/tidak memahami lambang-lambang, seperti bahasa, isyarat dan sebagainya.

2)       Adanya egosentrisme yang berbeda-beda. Yakni individu tersebut merasa dirinya yang paling benar, pintar, cantik, kaya dan lainnya, sehingga sulit menerima hal-hal baru dari orang lain. Hal ini bisa terjadi karena faktor bawaan/didikan awal dan lain sebagainya.

3)       Adanya pengaruh lingkungan yang berbeda-beda atau bahkan yang bertentangan dengan norma-norma sosial. Komunitas modern terbagi-bagi menjadi berbagai sektor atau kelompok yang masing-masing menuntut pola kelakuan yang berbeda-beda. Orangtua/guru mengharapkan agar individu tersebut jujur, tidak merokok, mencontek, dan menjauhi segudang perbuatan jelek lainnya. Akan tetapi, “kode individu” mengharuskannya turut dalam soal contek mencontek, merokok, dan sebagainya. Jika tidak, maka dia akan dikucilkan dari komunitas sektornya.

Walaupun demikian, tiap individu harus menyesuaikan diri dengan berbagai situasi sosial, sering juga yang bertentangan normanya. Bila pertentangan itu tajam, maka ada kemungkinan baginya untuk mendapat gangguan psikologis/sosial.

Gangguan kepribadian ini dapat berbeda-beda tarafnya.Adayang ringan seperti kecanggungan dalam berkelakuan, misalnya menghadapi sesuatu yang belum dikenal padahal mudah diatasi. Akan tetapi ada gangguan yang merusak pribadi individu sampai memerlukan psikolog, bahkan pskiater. Hingga batas tertentu jika penyesuaian diri dalam pendidikan di sekolah kurang berhasil/gagal maka bisa jadi akan menjadi benih pertumbuhan gangguan jiwa pada individu.

 

BAB IV

PENYESUAIAN DIRI PENYELENGGARA PENDIDIKAN (Organisator of education adjusment/adaptation/sosialization)

 

Tidak hanya peserta didik yang dituntut untuk menyesuaikan diri, tetapi penyelenggara pendidikan pun harus menyesuaikan diri. Berikut akan ditawarkan sedikit tentang penyesuaian diri penyelenggara pendidikan:

A. Gambaran Pembelajaran di Abad Pengetahuan

Praktek pembelajaran yang terjadi sekarang masih didominasi oleh pola atau paradigma yang banyak dijumpai di abad industri. Pada abad pengetahuan paradigma yang digunakan jauh berbeda dengan pada abad industri. Galbreath[11] mengemukakan bahwa pendekatan pembelajaran yang digunakan pada abad pengetahuan adalah pendekatan campuran yaitu perpaduan antara pendekatan belajar dari guru, belajar dari siswa lain, dan belajar pada diri sendiri. Praktek pembelajaran di abad industri dan abad pengetahuan dapat dilihat pada Tabel berikut;

No.

Abad Industri

No.

Abad Pengetahuan

Guru sebagai pengarah.

Guru sebagai fasilitator,

pembimbing, konsultan.

Guru sebagai sumber pengetahuan.

Guru sebagai kawan belajar.

Belajar diarahkan oleh kurikulum.

Belajar diarahkan oleh siswakulum.

Belajar dijadualkan secara ketat dgn waktu yang terbatas.

Belajar secara terbuka, ketat dgn waktu yang terbatas fleksibel sesuai keperluan.

Terutama didasarkan pada fakta.

Terutama berdasarkan proyek dan

masalah.

Bersifat teoritik, prinsip- prinsip dan survei .

Dunia nyata, dan refleksi prinsip

dan survei.

Pengulangan dan latihan.

Penyelidikan dan perancang.

Aturan dan prosedur .

Penemuan dan penciptaan.

Kompetitif .

Kolaboratif.

Berfokus pada kelas .

Berfokus pada masyarakat.

Hasilnya ditentukan sebelumnya.

Hasilnya terbuka.

Mengikuti norma.

Keanekaragaman yang kreatif.

Komputer sbg subyek belajar.

Komputer sebagai peralatan semua

jenis belajar.

Presentasi dgn media statis.

Interaksi multi media yang

dinamis.

Komunikasi sebatas ruang kelas.

Komunikasi tidak terbatas ke

seluruh dunia.

Tes diukur dengan norma.

Tes diukur oleh pakar, penasehat,

kawan sebaya dan diri sendiri.

Kalau Paulo Freire[12] menggambarkan proses pembelajaran yang tidak relevan dan harus direformasi ialah pendidikan ‘gaya bank’, yakni:

a)      Guru mengajar, murid diajar.

b)      Guru mengetahui segala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa.

c)      Guru berpikir, murid dipikirkan.

d)     Guru bercerita, murid mendengarkan.

e)      Guru menentukan peraturan, murid diatur.

f)       Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menyetujui.

g)      Guru berbuat, murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan      gurunya.

h)      Guru memilih bahan dan ini pelajaran, murid (tanpa diminta pendapatnya) menyesuaikan diri dengan pelajaran itu.

i)        Guru mencampuradukan kewenangan ilmu pengetahuan dan kewenangan jabatannya, yang ia lakukan untuk menghalangi kebebasan murid.

j)        Guru adalah subyek dalam proses belajar, murid adalah obyek belaka. Sebagai jawaban atas pendidikan gaya bank tersebut, Freire menawarkan bahwa sesungguhnya pendidikan semestinya dilakukan secara dialogis. Proses dialogis ini merupakan satu metode yang masuk dalam agenda besar pendidikan Paulo Freire yang disebutnya sebagai proses penyadaran (konsientisasi). Menurutnya, konsientisasi merupakan proses kemanusiaan yang ekslusif.

Akhirnya yang paling penting, paradigma baru pembelajaran ini memberikan peluang dan tantangan yang besar bagi perkembangan profesional, baik pada preservice dan inservice guru-guru kita. Di banyak hal, paradigma ini menggam-barkan redefinisi profesi pengajaran dan peran-peran yang dimainkan guru dalam proses pembelajaran. Meskipun kebutuhan untuk merawat, mengasuh, menyayangi dan mengembangkan anak-anak kita secara maksimal itu akan selalu tetap berada dalam genggaman pengajaran, tuntutan-tuntutan baru Abad Pengetahuan menghasilkan sederet prinsip pembelajaran baru dan perilaku yang harus dipraktikkan. Berdasarkan gambaran pembelajan di abad pengetahuan di atas, nampalah bahwa pentingnya pengembangan profesi guru dalam menghadapi berbagai tantangan ini.

B. Profesionalisme guru

Arifin[13] mengemukakan guru Indonesia yang profesional dipersyaratkan mempunyai; (1) dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap masyarakat teknologi dan masyarakat ilmu pengetahuan di abad 21; (2) penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praksis pendidik7an yaitu ilmu pendidikan sebagai ilmu praksis bukan hanya merupakan konsep-konsep belaka. Pendidikan merupakan proses yang terjadi di lapangan dan bersifat ilmiah, serta riset pendidikan hendaknya diarahkan pada praksis pendidikan masyarakat Indonesia; (3) pengembangan kemampuan profesional berkesinambungan. Kekerdilan profesi guru dan ilmu pendidikan disebabkan terputusnya program pre-service dan in-service karena pertimbangan birokratis yang kaku atau manajemen pendidikan yang lemah.

Dengan adanya persyaratan profesionalisme guru ini, perlu adanya paradigma baru untuk melahirkan profil guru Indonesia yang profesional di abad 21 yaitu; (1) memiliki kepribadian yang matang dan berkembang; (2) penguasaan ilmu yang kuat; (3) keterampilan untuk membangkitkan peserta didik kepada sains dan teknologi; dan (4) pengembangan profesi secara berkesinambungan. Keempat aspek tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dan ditambah dengan usaha lain yang ikut mempengaruhi perkembangan profesi guru yang profesional.

Dimensi lain dari pola pembinaan profesi guru adalah (1) hubungan erat antara perguruan tinggi dengan pembinaan SLTA; (2) meningkatkan bentuk rekrutmen calon guru; (3) program penataran yang dikaitkan dengan praktik lapangan; (4) meningkatkan mutu pendidikan calon pendidik; (5) pelaksanaan supervisi; (6) peningkatan mutu manajemen pendidikan berdasarkan Total Quality Management (TQM); (7) melibatkan peran serta masyarakat berdasarkan konsep link and match (menyambungkan dan mencocokkan), (8) pemberdayaan buku teks dan alat-alat pendidikan penunjang; (9) pengakuan masyarakat terhadap profesi guru; (10) perlunya pengukuhan program Akta Mengajar melalui peraturan perundangan; dan (11) kompetisi profesional yang positif dengan pemberian kesejahteraan yang layak.

Apabila syarat-syarat profesionalisme guru di atas itu terpenuhi akan mengubah peran guru yang tadinya pasif menjadi guru yang kreatif dan dinamis. Hal ini sejalan dengan pendapat Semiawan[14] bahwa pemenuhan persyaratan guru profesional akan mengubah peran guru yang semula sebagai orator yang verbalistis menjadi berkekuatan dinamis dalam menciptakan suatu suasana dan lingkungan belajar yang invitation learning environment. Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, guru harus memiliki multi fungsi yaitu sebagai fasilitator, motivator, informator, komunikator, transformator, change agent, inovator, konselor, evaluator, dan administrator.

C. Pendidikan Realitas

 

Potret buram kebanyakan penyelenggara pendidikan berawal dari hal yang sesungguhnya sangat fundamental. Pendidikan kita tidaklah berangkat dari satu realitas masyarakat didalamnya, bahkan dapat dikatakan jauh dari realitas. Sebagai contoh, realitas kehidupan kita sebagian besar ada di pedesaan dan bekerja di ladang pertanian. Tetapi, kenyataan tersebut tidak digarap dengan baik di setiap jenjang pendidikan kita, baik dalam proses pembelajaran maupun dalam kegiatan riset. Contoh lainnya dapat kita cermati dalam pendidikan agama di persekolahan. Pendidikan agama diajarkan secara antirealitas. Padahal pluralitas kehidupan beragama kita merupakan realitas yang tidak perlu dipungkiri lagi. Pendidikan agama masih diajarkan sebagai bagian dari usaha seseorang untuk memonopoli Tuhan dan kebenaran, dan dengan sendirinya menghakimi orang lain yang berbeda agama dengannya. Akibatnya, realitas kehidupan beragama kita kurang berfungsi sebagai pengikat persaudaraan dan membantu menumbuhkan kearifan dan sikap rendah hati untuk saling menghormati dan saling memahami perbedaan yang ada. Pada akhirnya, pluralitas kehidupan beragama lebih cenderung menjadi penyebab konflik yang tak habis-habisnya, bahkan banyak menjamurnya pembenaran terorisme atas nama agama. Ini akibat metode pengajaran agama yang salah -dan tentunya ada sebab-sebab lain-.

Relitas ekonomi masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih berada dalam kategori miskin dan terbelakang tidak pula dijadikan bahan pijakan untuk menentukan sistem pendidikan di Indonesia. Sekolah sekarang lebih mirip sebagai industri kapitalis daripada sebagai pengemban misi sosial kemanusiaan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Sementara untuk sekolah tinggi (baca pendidikan tinggi/perguruan tinggi), suatu ketika Menteri Pendidikan Nasional, Malik Fajar, mengemukakan bahwa perkembangan perguruan tinggi negeri (PTN) akhir-akhir ini lebih mirip toko kelontong. PTN kini kian mengecil dan berkeping-keping dengan membuka sekaligus menawarkan aneka program studi jangka pendek dan program ekstensi. Tujuannya jelas, penjualan kelontong itu lebih berorientasi profit (mengejar keuntungan materi) ketimbang pengembangan ilmu.

Fungsi sekolah masa lalu yang mengemban misi agung sebagai pencerdas kehidupan bangsa, kini tak ubahnya lahan bisnis untuk memperoleh keuntungan. Akibatnya, hanya kelompok elit sosial-lah yang yang mendapatkan pendidikan cukup baik. Kaum miskin menjadi kaum marjinal secara terus-menerus. Merekalah yang disebut Paulo Freire sebagai “korban penindasan”. Proses penindasan yang sudah mewabah dalam berbagai bidang kehidupan semakin mendapat legitimasi lewat sistem dan metode pendidikan yang paternalistik, murid sebagai obyek pendidikan, intruksisional dan anti dialog. Dengan demikian, pendidikan pada kenyataannya tidak lain daripada proses pembenaran dari praktek-praktek yang melembaga. Secara ekstrim Freire menyebutkan bahwa sekolah tidak lebih dari penjinakan. Digiring kearah ketaatan bisu, dipaksa diam dan keharusannya memahami realitas diri dan dunianya sebagai kaum yang tertindas. Bagi kelompok elit sosial, kesadaran golongan tertindas membahayakan keseimbangan struktur masyarakat hierarkis piramidal.

BAB V

KESIMPULAN

Penyesuaian diri tidak hanya dibutuhkan bagi pesrta didik, tapi juga bagi penyeleggara pendidikan. Hal ini agar terjadinya mutu pendidikan yang terbaik di negeriIndonesia. Selama ini penyelenggara pendidikan egois dan selalu menganggap dirinya sebagai subjek pendidikan. Padahal pesrta pendidikan juga sebagai seubjek pendidikan. Adapun objek pendidikan adalah ilmu, bukan peserta didik! Kalau hal ini dibiarkan maka yang akan terjadi adalah keputus asaan terhadap lembaga pendidikan.

Semoga, tidak ada lagi pertanyaan yang menggugat eksistensi lembaga pendidikan seperti yang ungkapkan Roem Topatimasang[15]: “Jika sekarang banyak orang berwatak dan bersikap ‘setengah manusia, seperempat binatang, dan seperempat lagi setan’, merupakan hasil bentukan sekolah (baca: pendidikan,pen)?”

BAB VI

POSKATA

            Dengan berharap rahmat dan ridha Allah, penulis bertahmid dan bertakbir atas pertolongan Allah (melalui perantara akal dan pengalaman penulis yang picik) untuk menyelesaikan paper Pendidikan dan Penyesuaian Diri pada mata kuliah Sosiologi Pendidikan hasil kerja barenag Kelas E dan B Semester VII pada Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (ITK), Univesitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Kritik dan saran konstruktif dari pembaca sangat kami nantikan. Allah A’lam Bi al-Shawab.

BIBLIOGRAFI

Ace Suryadi dan H.A.R. Tilaar, Analisis Kebyakan Pendidikan Suatu PendidikanBandung: Remaja Rosda Karya, 1993.

Ahmadi,  Abu,  Drs.  H.,  Sosiologi Pendidikan,  Jakarta:  PT  Reineka  Cipta,  cet. I, 1991.

Bali Post, Edisi: Minggu, 10 Nopember 2002

Bali Post, Edisi: Minggu, 23 Maret 2003.

Galbreath, J., Preparing the 21st Century Worker: The Link Between Computer-Based Technology and Future Skill Sets, Educational Technology, Nopember-Desember 1999 Edition.

Gerungan, DR. W.A., Dipl. Psych., Psikologi Sosial, Bandung: Eresco, cet. XIII, 1996.

Mahfuzh, Syaikh M. Jamaluddin, Psikologi Anak dan Remaja Muslim,Jakarta: Pustaka al-Kautsar, cet.I, 2001.

Nasution, S., Prof. DR., MA., Sosiologi Pendidikan,Jakarta: PT Bumi Aksara, cet. II, 1999.

Soekanto, Soerjono, Sosiologi; Suatu Pengantar,Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, cet. XXIX, 2000.

Soemanto, Wasty, Psikologi PendidikanJakarta: Rineka Cipta, 1998.

Tim Penyusun Kamus; Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia; Edisi Kedua,Jakarta: Balai Pustaka, cet. VII, 1996.

http://www.pendidikan.net/artikel.html

———-0O0———-

Foot Note:

___________________

[1] Soerjono Soekanto, Sosiologi; Suatu Pengantar, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2000), cet. XXIX, h. 20.

[2] Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia; Edisi Kedua, (Jakarta: Balai Pustaka, 1996), cet. VII, h. 232.

[3] Abu Ahmadi, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: PT Reineka Cipta, 1991), cet. I, h. 9.

[4] S. Nasution, Sosiologi Pendidikan, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 1999), cet. II, h. 126.

[5] Baca:    a. Syaikh M. Jamaluddin Mahfuzh, Psikologi Anak dan Remaja Muslim, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2001), cet.I, h. 16-17.

               b. W.A. Gerungan, Psikologi Sosial, (Bandung: Eresco, 1996), cet. XIII, h. 55.

[6]Bali Post, Edisi: Minggu, 23 Maret 2003.

[7] Bali Post, Edisi: Minggu, 10 Nopember 2002

[8] Bali PostLoc.Cit., Minggu, 23 Maret 2003.

[9] Ace Suryadi dan H.A.R. Tilaar, Analisis Kebyakan Pendidikan Suatu Pendidikan(Bandung: Remaja Rosda Karya, 1993), h. 111.

[10] Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan(Jakarta: Rineka Cipta, 1998), h. 203.

[11] Galbreath, J., Preparing the 21st Century Worker: The Link Between Computer-Based Technology and Future Skill Sets. Educational Technology Nopember-Desember 1999. Hlm. 14-22.

[13] Arifin Ilham. Profesionalisme Guru: Analisis Wacana Reformasi Pendidikan dalam Era Globalisasi. Simposium Nasional Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang, 25-26 Juli 2001.

[14] Semiawan, C.R., Mencari Strategi Pengembangan Pendidikan Nasional Menjelang Abad XXI. (Jakarta: Grasindo, 1991), h. 302.


 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Mei 2011 in Kampus UIN Jakarta

 

Organisasi Keagamaan dan Keberadaan Pendidikan Islam di Indonesia (Kasus Muhammadiyah)

Paper ini disusun dalam rangka memenuhi tugas pengganti UAS pada mata kuliah Sosiologi Pendidikan yang dipresentasikan pada hari kamis 08 Januari 2004

Disusun oleh Mahasiswa semester VII Kelas E:

Apriansyah Bintang (0011017834)

Dosen Pembimbing:

Prof.Dr. Mastuhu, M.Ed. & Fauzan Asyie, S.Pd.I

Jurusan Pendidikan Agama Islam

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Universitas Islam Negeri

Jakarta

2004

———-0O0———-

Abstraksi

Sejak awal didirikan oleh KH Ahmad Dahlan tahun 1912, organisasi Muhammadiyah telah dikonsentrasikan sebagai gerakan Islam dan dakwah amar makruf nahi munkar (religious proselytizing) yang mengandung arti luas yakni mengajak manusia untuk beragama Islam, meluruskan Keislaman kaum muslim serta meningkatkan kualitas kehidupan baik secara intelektual, sosial, ekonomi maupun politik. Dalam usaha untuk memurnikan pengamalan ajaran Islam (purifikasi) sekaligus mengangkat kehidupan umat,

Muhammadiyah lebih berani menerapkan sekolah agama modern dengan menerapkan metode rasional yang lebih menekankan pada pemahaman dan penalaran ketimbang hafalan. Amal usaha yang ditangani organisasi ini kian lama kian berkembang. Sekolah-sekolah (dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi), rumah sakit, dan poliklinik, berdiri tidak hanya di Jawa tetapi juga di luar Jawa. Secara kuantitatif usaha yang dilakukan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan dan sosial memang cukup besar, namun secara kualitatif masih dipertanyakan oleh para simpatisan dan warga Muhammadiyah.

BAB I

Pendahuluan

    Pendidikan Islam sudah berlangsung di Indonesia sejak lama. Dalam definisi yang agak longgar, pendidikan Islam bisa dikatakan sudah berlangsung sejak penetrasinya Islam ke teritorial ini. Hanya saja kegiatan pendidikan Islam baru dianggap fenomenal dan mendapat perhatian serius dari para historian pada fase jayanya kerajaan-kerajaan Islam Nusantara. Pada masa kerajaan-kerajaan Islam eksistensi dan maju mundurnya aktivitas pendidikan Islam sepenuhnya tergantung pada struktur dan perhatian yang diberikan kerajaan kepadanya. Namun demikian, dalam kenyataan di lapangan sangat terlihat jelas bahwa pendidikan Islam memperoleh support yang relatif baik dari para raja dan sultan muslim. Hal ini terbukti dengan jumlah saintis muslim dan literatur yang mereka tinggalkan sebagai khazanah klasik Islam Nusantara (Braginsky, 1998). Para saintis Nusantara bahkan diketahui telah membangun scientific network yang berwatak kosmopolitan, melibatkan pusat-pusat kegiatan ilmiah terkemuka di dunia Islam (Azra, 1994; Bruinessen, 1996).

Pada abad ke-20 –setelah melalui proses panjang pembusukan sistem kerajaan Islam Nusantara dan jatuhnya teritori ini ke bawah kolonialisme bangsa-bangsa Barat– watak pendidikan Islam Indonesia mengalami perubahan yang sangat signifikan. Memudarnya kerajaan secara langsung menjadikan sistem pendidikan tradisional terdisolvasikan; lalu keadaan ini diperburuk pula oleh misi kolonialisme yang pada intinya tidak menghendaki majunya pendidikan Islam. Terdisolvasinya sistem politik dan lemahnya social system umat Islam memaksa umat Islam mengorganisasikan pendidikan dalam unit-unit dan bahkan sub-sub unit yang lebih kecil dari masyarakat Islam.

Dengan kata lain, fragmentasi sosio-politik mengakibatkan fragmentasi sistem pendidikan. Salah satu aspek menarik dari totalitas proses ini adalah lahirnya sejumlah organisasi sosial keagamaan –Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, PERSIS, Al-Jam’iyatul Washliyah, Al-Irsyad, dan lain-lain– yang menjadikan pendidikan sebagai bagian yang signifikan dari programnya.

Peranan dari organisasi-organisasi ini dalam menggagas, melaksanakan, dan mengembangkan kegiatan pendidikan Islam tidak saja telah berhasil memenuhi kebutuhan pendidikan umat Islam Indonesia, tetapi lebih dari itu juga telah memainkan peran yang lebih luas berdasarkan kondisi yang melingkupinya. Sejumlah penelitian telah dilakukan oleh para ahli berkenaan dengan berbagai organisasi ini (Steenbrink, 1974; Noer, 1988; Hasanuddin, 1988; Yunus, 1993; Daya, 1990).

Pada umumnya, para observer menganggap bahwa Muhammadiyah adalah organisasi yang paling sukses dalam memenej pendidikan. Organisasi ini biasanya dipandang mampu melakukan pendefinisian karakter yang senantiasa mengikuti perkembangan kedaan zaman. Oleh karena itu, internal bloomingyang terjadi dalam organisasi ini dalam pengelolaan pendidikan Islam amatlah menarik untuk dijadikan sebagai interest focus.

Organisasi Muhammadiyah adalah sebuah wadah sosial Islam tertua dan terbesar di Indonesia yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan dan bercirikan Islam. Jangkauan anggota organisasi ini secara geografis dan etnis sangat luas, bahkan saat ini Muhammadiyah tidak hanya ada di wilayah Indonesia, tetapi juga terdapat di beberapa negara ASEAN, meskipun hubungannya lebih bersifat aspiratif ketimbang instruktif (Azra, 1995).

Sejak awal berdirinya organisasi ini telah dikonsentrasikan pada gerakan Islam secara substansial (Ma’arif, 1995:5) dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang mengandung arti luas yakni mengajak manusia untuk beragama Islam, meluruskan Keislaman kaum muslim, serta meningkatkan kualitas kehidupan mereka baik secara intelektual, sosial, ekonomi maupun politik. Pengelolaan organisasi dilakukan secara modern. Dikatakan modern karena proses regenerasi kepemimpinan berlaku secara berkesinambungan. Selain itu, tidak terjadi proses kultus individu, yang memandang pimpinan organisasi sebagai sosok individu yang paling sempurna.

Dalam AD-ART bab II pasal 3, dinyatakan bahwa tujuan didirikan Muhammadiyah adalah untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil, dan makmur yang diridhoi Allah SWT, dalam usahanya untuk memurnikan pengamalan ajaran Islam (purifikasi) dan sekaligus mengangkat kehidupan umat. Muhammadiyah berani menerapkan sistem sekolah agama modern yang menerapkan metode rasional dan lebih menekankan pada pemahaman dan penalaran ketimbang hafalan. Sistem ini sangat berbeda dengan sistem pengajaran yang berkembang pada masa didirikannya organisasi ini (Lapidus, 1989:76).

Muhammadiyah sering dikatakan hanya melakukan adopsi pendidikan Barat tanpa mengkaji “secara serius aspek filsafat pendidikan yang mendasarinya.” Padahal pendidikan Barat yang diterapkan Belanda tidak dapat dipisahkan dari kegiatan misionaris (Steenbrink, 1995:22-23), atau lebih mendasarkan pada nilai pragmatis, artinya cocok dan mudah dipahami oleh masyarakat urban, misalnya salat tarawih delapan rakaat, dan sebagainya yang kadang menimbulkan masalah baru dan tidak kalah pelik dan kompleks. Dengan alasan ini kemudian para cendekiawan menyebut Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid (pembaharu), modernis, dan sejenisnya (Benda, 1980:70). Jati diri Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid ini semakin diperkuat dengan jargon-jargonnya seperti ijtihad, tidak bermazhab, kembali kepada al-Quran dan al-Hadits, dan sebagainya.

Pada periode awal kebangkitan, Muhammadiyah telah berhasil menjalankan misinya. Banyak data dan fakta yang diajukan untuk mendukung hal ini. Bahkan, dengan gerakan purifikasinya, Muhammadiyah sering dituduh oleh kelompok lain yang tidak sepaham sebagai gerakan “kaum wahabi Indonesia.”

Dalam dinamika proses kelahirannya, Muhammadiyah merupakan gerakan pembaharu atau tajdid, terlebih dari aspek purifikasinya. Setidaknya dalam ukuran tertentu Muhammadiyah telah mengembangkan misi ganda. Pertama, misi purifikasi, yaitu mengembalikan semua bentuk kehidupan keagamaan pada contoh zaman Islam, dengan membentengi keyakinan aqidah Islam serta berbagai bentuk ritual tertentu dari pengaruh sesat. Kedua, dengan landasan universalitas ajaran Islam sesuai dengan tantangan perkembangan kehidupan, terutama pada ajaran yang berkaitan dengan nonibadah, seperti aktivitas yang bersumber dasar ajaran Islam dan hanya memberikan global principles.

Namun, pada era belakangan ini khususnya dua dasa warsa terakhir banyak kalangan, termasuk para pendukungnya, yang kritis mempertanyakan kembali gelar tajdid yang dilakukan Muhammadiyah. Mereka menilai Muhammadiyah mulai dan sudah kehilangan elan-tajdidnya, bahkan secara lantang mereka mengatakan Muhammadiyah mandul dan mengalami stagnasi dalam pemikiran (Karim, 1986:34).

Sikap skeptisisme ini muncul karena Muhammadiyah telah terjebak pada keraguan yang lebih berkaitan pada ketadjdidan pengembangan pemikiran Islam, terlebih pemikiran Islam yang khas Indonesia. Bahkan, menurut Azyumardi Azra (1995:3), akar kejumudan terletak pada doktrin atau konsep teologi yang semakin dipertanyakan relevansinya di tengah masyarakat pascamodern yang sedang mengalami kegundahan keagamaan.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mendiskusikan Muhammadiyah dalam aspek gerakannya yang luas, namun lebih memfokuskan pada salah satu aspek gerakan pembaharuan Muhammadiyah yakni gerakan di bidang pendidikan. Bahkan, gerakan dalam pendidikan merupakan komitmen utama Muhammadiyah untuk melakukan pembaharuan dalam segala aspek.

BAB Ii

Pembahasan

A. Kelahiran Muhammadiyah

Muhammadiyah adalah salah satu organisasi sosial Islam yang terpenting di Indonesia sebelum Perang Dunia II hingga sekarang. Organisasi ini didirikan di Yogyakarta tanggal 18 November 1912, atas saran murid-muridnya dan beberapa orang yang tergabung dalam Budi Utomo, oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan, anak Kyai Haji Abubakar bin Kyai Sulaiman (Khatib Mesjid Sultan) dan ibunya anak Haji Ibrahim, penghulu.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya dalam nahu, fiqh, dan tafsir di Yogyakarta dan sekitarnya, ia pergi ke Mekkah tahun 1890 selama setahun. Salah seorang gurunya di Mekkah adalah Syeikh Ahmad Khatib. Sekitar tahun 1903 ia kembali mengunjungi Tanah suci selama dua tahun.

Untuk mencapai tujuan organisasi Muhammadiyah, didirikanlah lembaga-lembaga pendidikan dengan mengintensifkan pelaksanaan dakwah yang lebih mengutamakan aspek-aspek Islam, mendirikan institusi wakaf dan masjid-masjid serta menerbitkan buku-buku, majalah, dan surat kabar, serta lembaga-lembaga pendidikan dan dakwah yang terutama bertujuan “menyebarkan pengajaran kanjeng nabi Muhammad SAW kepada penduduk bumi putera” dan “memajukan agama Islam.”

Dengan sikap toleran dan pengabdian yang sungguh-sungguh dan kemauan yang tinggi, organisasi ini berkembang dan tumbuh dengan cepat dan terorganisir secara rapi. Pada tahun 1925, organisasi ini telah mempunyai 29 cabang dengan 4.000 anggota. Kegiatan dalam bidang pendidikan meliputi delapan Hollands Inlandse School (HIS), satu sekolah guru di Yogyakarta, 32 sekolah dasar lima tahun, satu Schakelschool, 14 madrasah, yang jumlah guru seluruhnya mencapai 119 orang sedang muridnya mencapai 4.000 orang. Dalam bidang sosial, organisasi ini memiliki klinik di Yogyakarta dan Surabaya dan sekitar 12.000 pasien telah memperoleh pengobatan; satu rumah miskin dan dua rumah Yatim Piatu. Sedangkan bagian publikasi telah menerbitkan sejumlah 700.000 buku dan brosur (Deliar Noer, 1993:191-194)

Di samping ide pemikiran Ahmad Dahlan, lahirnya Muhammadiyah sebagai manifestasi dari keinginan umat Islam saat itu untuk mewujudkan keyakinan akan kebenaran dan ketinggian Islam dengan tujuan utamanya mewujudkan Islam sebagai rahmatan li al-’amin atau kesejahteraan bagi seluruh umat manusia dan alam semesta.

Lahirnya pemikiran modern organisasi ini di awal abad ke-20 tidak dapat dilepaskan dengan situasi dan kondisi sosial, politik yang dihadapi umat Islam saat itu (Lubis, 1987:13). Kondisi sosial politik kala itu, di mana umat Islam berada dalam cengkraman kolonial, sebagai faktor eksternal mendorong munculnya organisasi ini. Faktor internal yang ikut mendorong lahirnya Muhammadiyah adalah sikap keberagamaan umat Islam kala itu yang dinilai sangat sinkretis dan diselimuti oleh tradisi Hindu-Budha dalam menjalankan ibadah ritual serta rendahnya partisipasi umat Islam dalam pendidikan.

Selain sikap keberagamaan umat Islam pada saat itu yang masih belum rasional, menyebabkan banyak ajaran Islam dicampuradukkan dengan syirik, khurafat, bid’ah, dan taqlid. Sikap ini disebabkan oleh besarnya pengaruh kepercayaan dan keyakinan Hindu dan animisme dalam kehidupan masyarakat, selain akibat dari proses Islamisasi yang berbau sufisme atau mistisisme dan paham tarekat. Pemahaman ini akibat kedangkalan berpikir umat Islam yang hanya cenderung mengikuti salah satu mazhab. Sistem pendidikan yang lebih menekankan pada kemampuan mengaji bukan mengkaji (penalaran) sehingga menimbulkan pemikiran yang tradisional yang kurang rasional.

Gencarnya gerakan westernisasi kala itu, yang sengaja memperkenalkan ilmu-ilmu dan kebudayaan Barat yang sekuler tanpa diimbangi dengan pendidikan agama oleh pemerintah Belanda, membuat KH Ahmad Dahlan merasa gerang dan berfikir bahwa salah satu wadah yang tepat untuk menangkal gerakan tersebut adalah dengan cara mendirikan Muhammadiyah. KH Ahmad Dahlan beranggapan bahwa gerakan westernisasi tersebut merupakan ancaman umat Islam terbesar di awal abad ke-20.

B. Pemikiran Muhammadiyah

Komprehensitas tentang ide pemikiran dan amal usaha Muhammadiyah tidak dapat dipisahkan dengan tokoh pendirinya, sebab pandangan pendiri tersebut hingga saat ini tetap dijadikan sebagai gerakan pola dasar pengembangan Muhammadiyah. Terdapat sepuluh konsep pemikiran KH Ahmad Dahlan yang oleh R.H. Hajid dirangkum menjadi tujuh kerangka pemikiran yaitu: Pertama, ulama adalah orang yang berilmu dan hatinya hidup (kreatif) serta mengembangkan ilmunya dengan ihklas. Kedua, untuk mencari kebenaran, orang tidak boleh merasa benar sendiri. Ketiga, bersedia mengubah pikiran dengan sikap dan hati terbuka. Keempat, dalam mencapai tujuan hidup, manusia harus bekerja sama dengan menggunakan akal. Kelima, cara mengambil keputusan yang benar harus bersedia mendengar dan mempertimbangkan akhlaq. Keenam, berani mengorbankan harta milik untuk membela kebenaran. Ketujuh, mempelajari teori dan keterampilan dengan bertahap. Konsep pemikiran tersebut didasarkan (Q.S. Al-Ma’un 1-7 dan Al-Anfal: 24).

Berdasarkan pendangan di atas Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan tajdid yang identik dengan gerakan Islam, berusaha menghidupkan akal pikiran umat Islam, serta membangun kemampuan profesional bagi umat Islam untuk meraih kebahagiaan jasmani dan rohani (Mulkan, 1990:43). Karena itu, gerakan Muhammadiyah harus dipahami dari dua segi. Pertama, berciri atau bersifat Islam seperti kedisiplinan, gigih, tidak mudah frustasi, dan kreatif. Kedua, mementingkan ukhuwah Islamiyah, dan harus menjaga dan menggerakkan Islam sebagai gerakan yang dinamis yang tidak saja untuk kepentingan warga Muhammadiyah tetapi berfungsi sebagai rahmatan lil’alamin.

C. Perkembangan organisasi

Titik awal perkembangan Muhammadiyah adalah ketika KH Ahmad Dahlan diangkat sebagai Khatib di kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat tahun 1896 ketika berumur 28 tahun untuk menggantikan ayahandanya. Tahun 1898 KH Ahmad Dahlan mempelopori Musyawarah Alim Ulama Yogyakarta. Dalam pertemuan tersebut KH Ahmad Dahlan menawarkan ide agar arah kiblat mesjid besar Yogyakarta diubah sesuai perhitungan ilmu falaq. Namun, ide tersebut ditentang oleh para ulama lain. Sejak itu KH. Ahmad Dahlan mendirikan surau di samping tempat tinggalnya dengan arah kiblat dicocokkan dengan perhitungan ilmu falaq.

Tahun 1909 KH Ahmad Dahlan masuk ke organisasi Budi Oetomo dengan maksud untuk memperlancar dakwah kepada anggota Budi Oetomo dan siswa yang belajar di sekolah Belanda. Pengaruh KH Ahmad Dahlan dalam organisasi Budi Oetomo inilah yang kemudian mendapat rekomendasi dari Budi Oetomo untuk mendirikan Muhammadiyah 1912 yang disahkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada tahun 1914.

Setelah Muhammadiyah mendapat rekomendasi, ruang gerak organisasi ini meliputi seluruh wilayah Jawa. Setahun kemudian ia meliputi seluruh Wilayah Hindia Belanda. Perluasan ini dimanfaatkan untuk mendirikan perkumpulan Kaum Ibu yang diberi nama “Sapatresna” tahun 1914, yang dipimpin langsung oleh isteri Kyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah). Tahun 1920, perkumpulan ini berubah menjadi “Aisyiyah”, dan pada tahun 1922 menjadi organisasi otonom.

Tahun 1918 didirikan sekolah baru bernama “Al-Qin Al-Arqa”. Dua tahun kemudian dari sekolah ini didirikan Pondok Muhammadiyah di Kauman. Pada tahun 1923 Muhammadiyah telah berhasil mendirikan 8 jenis sekolah dengan jumlah siswa sebanyak 1019 yang diasuh oleh 73 orang guru.

Tahun 1921 Muhammadiyah mendirikan sebuah wadah yang memusatkan perhatiannya untuk mempermudah pelaksanaan ibadah haji. Berdirinya wadah ini memberikan inspirasi munculnya Direktorat Pembinaan Urusan Haji Departemen Agama.

Setiap perkembangan Muhammadiyah selalu diiringi oleh perkembangan amal usahanya. Usaha mula-mula dilakukan dengan mendirikan sekolah serta menyelenggarakan pengajian Islam. Selanjutnya, di bidang kesejahteraan ekonomi, kesehatan, dan kajian hukum Islam. Usaha-usaha tersebut melahirkan Rumah Sakit, Rumah Yatim Piatu, Rumah Miskin, Rumah Jompo, Majelis Tarjih, Majelis Pembina Kesejahteraan Umut (PKU), Majelis Ekonomi, Majelis Kehartaan, dan Wakaf tahun 1926.

Penyempurnaan amal usaha terlihat sejak dibentuk Majelis Pembina Kesejahteraan Umat (PKU), tabligh, taman pustaka, yayasan dan Aisyiyah, serta pemuda. Bagian-bagian tersebut masing-masing membidangi unit-unit kerja tertentu sesuai dengan misi kinerja yang akan dikembangkan.

Tahun 1927, misalnya bidang Majelis Ekonomi ditetapkan akan membentuk Bank Muhammadiyah, meskipun hingga sekarang belum mampu direalisir. Tahun 1929 melalui Taman Pustaka dibentuk Badan Penerbitan Buku dan Komisi Sekolah, serta mendirikan rumah pertolongan di setiap daerah. Tahun 1930 dibentuk Consul HB (Hoofd Bestuur) sebagai koordinator Muhammadiyah Pusat di daerah-daerah yang kemudian menjadi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah.

Pada kongres ke-21 tahun 1932 dibentuk badan penerbitan sebuah harian. Badan penerbit ini melahirkan Harian Adil di Solo dan kemudian Majalah Remaja sebagai majalah Pemuda Muhammadiyah.

Selanjutnya, pada tahun 1936 dibentuk Badan Majelis Pertolongan dan Kesehatan. Setahun kemudian, dibentuk Komisi Kesehatan Muhammadiyah yang mulai menyebar ke seluruh daerah sekitar tahun 1938.

Tahun 1939 dibentuk Majelis Wakaf dan kehartabendaan, serta Majelis Tanwir (musyawarah) yang terdiri dari pengurus wilayah Muhammadiyah sebagai suatu lembaga di bawah muktamar atau kongres.

Dalam perjalanan perpolitikan di Indonesia, warga Muhammadiyah pernah beramai-ramai memberikan dukungan terhadap Partai Serikat Islam. Tokoh-tokoh Muhammadiyah pernah menjadi anggota istimewa Masyumi, yang ikut serta melahirkan Partai Muslimin Indonesia. Keterlibatan tokoh-tokoh Muhammadiyah terhadap salah satu Partai politik tidak pernah dilakukan secara resmi atau secara organisatoris, hanya sebatas berkeinginan untuk menyalurkan aspirasi Muhammadiyah terhadap salah satu wadah. Namun, tokoh-tokoh Muhammadiyah yang terlibat dalam aktivitas partai merasa kecewa, lantaran partai-partai politik tidak bisa dijadikan sarana menyalurkan aspirasi Muhammadiyah, hingga tokoh-tokoh tersebut keluar dari partai politik, baik secara individu atau kelompok. Meskipun tokoh-tokoh Muhammadiyah telah keluar dari salah satu Partai Politik, namun secara organisatoris Muhammadiyah tetap memberikan kebebasan kepada warganya untuk menyalurkan aspirasi politiknya, sesuai dengan panggilan nurani masing-masing. Bahkan, Muhammadiyah pernah memberikan kebebasan kepada warganya untuk memilih partai yang tidak berasaskan Islam.

Demikian sekilas perkembangan Muhammadiyah baik selama dalam kepemimpinan KH Ahmad Dahlan maupun sesudahnya, hingga dilakukan pembaharuan organisasi tahun 1960, baik secara vertikal maupun harizontal. Pembaharuan secara vertikal terkait dengan pembenahan struktur dengan pembentukan jaringan tradisional mulai tingkat pusat sampai tingkat ranting. Secara harizontal pembaharuan mencakup pertumbuhan jumlah amal usaha Muhammadiyah yang berkembang secara cepat dan maju, (Arifin, 1996:258).

D. Amal usaha dalam bidang pendidikan

Kehadiran Muhammadiyah dimaksudkan untuk menangani semua aspek kehidupan sosial, sesuai dengan kemampuan dan problem yang dihadapinya. Pada awal berdiri, Muhammadiyah menitikberatkan pada usaha dakwah melalui tabligh, pengajian, pendidikan, dan pembinaan keluarga Muslim yang hanya mencakup wilayah Residensi Yogyakarta, kemudian berkembang meliputi seluruh Jawa dan seluruh wilayah jajahan Hindia Belanda, bahkan akhirnya diperluas wilayahnya ke berbagai daerah.

Demikian halnya amal usaha yang ditangani kian lama menjadi berkembang secara pesat dan cepat seiring dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Dalam mencerdaskan dan mencerahkan kehidupan umat Islam, Muhammadiyah menempuh tiga proses, yakni ta’lim, tarbiyah, dan ta’dib. Ta’lim berusaha mencerdaskan otak manusia, tarbiyah mendidik perilaku yang benar, sedangkan ta’dib memperhalus adab kesopanan. Secara teoritis, seluruh lembaga pendidikan Muhammadiyah berusaha menggelindingkan pencerahan tiga dimensi itu sekaligus, berdasarkan wawasan Keislaman (Rais, 1996).

Gerakan di bidang pendidikan semakin gencar dilakukan setelah Muktamar ke-41 di Surakarta diadakan perubahan Anggaran Dasar pasal 4 yang berisi tentang ruang lingkup amal usaha Muhammadiyah yang meliputi: pengembangan penyelidikan nilai dan hukum Islam (tarjih) serta pengembangan pendidikan dan kebudayaan, tabligh, tolong menolong, kepustakaan, penertiban wakaf, kepemudaan, kewanitaan, dan kesejahteraan hidup anggota (ekonomi).

Pada dasarnya, kegiatan di bidang pendidikan sudah dimulai sejak awal berdirinya, berkaitan dengan amal usaha lainnya. Tahun 1929 jumlah rumah sekolah yang didirikan oleh Muhamamdiyah di wilayah Yogyakarta, Surakarta, dan Jakarta sudah mencapai 126 buah. Selain itu, sejumlah balai pengobatan (poliklinik) di kota-kota Yagya, Surabaya, dan Malang telah mengobati sebanyak 81.000 orang pasien (Karim, 1986:123).

Mengenai amal usaha di bidang pendidikan, Shodiq T. Sutaikrama, sebagaimana dikutip Rusli Karim, menyatakan bahwa sektor amal usaha pendidikannya menghadirkan 13.201 sekolah mulai jenjang Taman Kanak-Kanak sampai Perguruan Tinggi. Menanggapi perkembangan secara kelembagaan ini, patut disyukuri karena Muhammadiyah telah memiliki amal usaha yang cukup banyak. Selain memiliki lembaga pendidikan, juga memiliki sekitar 215 Rumah Sakit dan Poliklinik.

Secara kuantatif, usaha di bidang pendidikan yang dilakukan Muhammadiyah memang cukup besar dan membanggakan, namun secara kualitatif masih dipertanyakan oleh para simpatisan dan warga Muhammadiyah dengan melakukan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di semua jenjang pendidikan. Berdasarkan hasil evaluasi, lahirlah beberapa sekolah Muhammadiyah unggulan sebagai jerih payah pengurus Muhammadiyah dan pengelola sekolah yang dimotivasi oleh munculnya rasa ketidakpuasan dalam arti positif yakni keinginan untuk maju dan terus maju.

Dunia pendidikan menjadi salah satu konsentrasi pengembangan misi Muhammadiyah yang sistem pengajarannya berpolakan sistem sekolah negeri. Sistem pendidikan dan pengajaran tersebut bukan dimaksudkan untuk menciptakan sendiri suatu sistem pendidikan Islam, melainkan untuk mengorganisir sistem pendidikan swasta yang sejajar dengan sistem nasional. (Arifin, 1996:270)

Memang sejak awal kelahirannya, Muhammadiyah cenderung menyesuaikan dengan sistem pendidikan kolonial sekalipun hanya dalam tata cara penyelenggaraan pendidikan dan bukan dalam materi atau isi serta tujuan pendidikannya. Dalam analisis terhadap gerakan-gerakan pendidikan Islam di Indonesia yang muncul pada setengah abad pertama abad ke-20 dapat dikatakan bahwa Muhammadiyah dan Abdullah Ahmad di Minangkabau sebagai gerakan yang bersifat akomodatif, sedangkan gerakan-gerakan seperti Persatuan Islam (Persis), NU, PUI, Jam’iyatul Wasliyah dan Perti lebih bersifat asimilatif (Langgulung, 1988:69). Kemudian, Muhammadiyah juga mendirikan sekolah-sekolah yang mirip dengan pesantren, yang dapat digolongkan assimilatif.

Pada dasarnya reorientasi kelembagaan dan reorientasi tujuan pengajaran Muhammadiyah didasarkan pada perkembangan dan tuntutan yang muncul untuk melakukan pembaharuan. Kontekstualisasi pengajaran tersebut diharapkan agar secara kualitatif pendidikan yang dikelolah oleh Muhammadiyah dapat dipertanggung jawabkan.

Amal usaha Muhammadiyah dalam bidang pendidikan generasi muda selain melalui pendidikan dan pengajaran baik yang dilakukan secara formal maupun informal, juga dibentuk suatu wadah kegiatan pemuda yang disebut Hizbul Wathan. Wadah ini disiapkan untuk menyalurkan potensi dan aspirasi di kalangan generasi muda Muhammadiyah yang kemudian diubah menjadi kegiatan “Pramuka”. Munculnya wadah atau organisasi Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Muhammadiyah, dan sejenisnya, yang merupakan wujud nyata dari bloomingusaha Muhammadiyah dalam bidang pendidikan.

Munculnya beberapa wadah pelajar dan kepemudaan tersebut menampakkan ikatan emosional kemuhammadiyahan, juga sebagai agen penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan sekaligus perubahan yang dimungkinkan akan terjadi sebagai reaksi terhadap perkembangan dan tuntutan zaman. Secara organisatoris dan sebagai wujud nyata atas perkembangan Muhammadiyah, organisasi-organisasi tersebut menjadikan Muhammadiyah lebih mapan.

Namun, banyak kritik yang dilakukan oleh para cendekiawan baik di lingkungan Muhammadiyah maupun simpatisan terhadap keadaan Muhammadiyah dewasa ini. Kritik tersebut adalah sebagai berikut. Bahwa secara kuantitas Muhammadiyah terus berkembang, namun kurang diimbangi oleh kemampuan kualitas, dan sebagai akibat merosotnya keterlibatan kaum intelektual di kalangan Muhammadiyah, maka terjadi semacam alienasi kaum intelektualnya. Selain daripada itu, gerakan Muhammadiyah cendrung terjebak pada kegiatan rutin, sehingga kurang kreatif dan inovatif.

Terlepas benar tidaknya, kritik tersebut harus diterima secara lapang dada. Sikap keterbukaan tersebut pada akhirnya akan membawa Muhammadiyah ke ujung kemajuan, jika kritik dimaksud ditanggapi secara rendah hati untuk memperbaiki diri. Kritik yang sama dikemukakan oleh AR Fachrudin, bahwa Muhammadiyah masih kekurangan kader ulama, muballigh, petugas sosial, jurnalistik, pustakawan, ekonom, manajer, cendekiawan, kebudayaan dan sebagainya (Sujarwanto, 1980:381).

———-0O0———-

BAB Ii

penutup

Dalam mengantisipasi perkembangan zaman, Muhammadiyah dituntut untuk menyegarkan spirit Islam yang dinamis dan tidak menjadi status quo, karena di dalam masyarakat yang penuh persaingan, justru yang statis akan terlindas oleh sesamanya. Proses regenerasi tidak hanya figur pimpinannya tetapi juga konsep strategis, wawasan amal usaha, dan mekanisme kerja harus diperluas.

Sebaliknya, para tokoh Muhammadiyah harus menyadari bahwa kondisi sekarang jauh berbeda dengan situasi di mana Muhammadiyah baru muncul dan berkembang. Kecenderungan masyarakat seperti masyarakat fungsional, teknologis, saintifik, terbuka, transendentalisasi agama dan masyarakat serba nilai ini oleh Muhammadiyah harus disikapi secara arif dan bijaksana.

Bentuk sikap tersebut adalah kembali ke cita-cita awal Muhammadiyah yakni dalam rangka berdakwah. Oleh karena itu, Muhammadiyah pada hakekatnya adalah merupakan proses rekonstruksi sosial dalam arti masyarakat maju, adil dan makmur serta akhlakul karimah. Mudah-mudahan. Amien.

———-0O0———-

Bibliografi

Arifin, MT,. Muhammadiyah Potret Yang Berubah, Surabaya: Institut Gelanggang Pemikiran Filsafat Sosial Budaya dan Kependidikan, 1996.

Azra, Azyumardi, Muhammadiyah dan Kebangkitan Islam di Asia Tenggara, dalam Ulumul Al-Quran, Nomor 2 Vol. VI, 1995.

Azra, Azyumardi, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Melacak Akar-Akar Pembaruan Pemikiran Islam di Indonesia, Bandung: Mizan, 1994.

Benda, Harry J, The Cresent and Rising Sun, Indonesian Islam Under the Japanese Occupation, 1942-1945, Terj. Daniel Dhakidae, Jakarta: Pustaka Jaya, 1980.

Braginsky, V.I, Yang Indah, Berfaedah dan Kumal: Sejarah Sastra Melayu Dalam Abad 7-19. Terj.Hersri Setiawan, Jakarta: INIS, 1998.

Bruinessen, Martin Van, Tarekat Naksabandiyah di Indonesia,Bandung: Mizan, 1996.

Daya, Burhanuddin, Gerakan Pembaharuan Pemikiran Islam: Kasus Sumatera Tawalib, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990.

Hasanuddin, Chalijah, Al-Jam’iyatul Wasliyah: Api Dalam Sekam, Bandung: Pustaka, 1988.

Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: Hidakarya Agung, 1988.

Lapidus, Ira M, A History of Islamic Societies, London: Cambridge University Press, 1989.

Lubis, Arbaiyah, Pemikiran Muhammadiyah dan Muhammad Abduh; Suatu Studi Perbandingan, Jakarta: Bulan Bintang, 1987.

Ma’arif, Ahmad, Syafi’i, Muhammadiyah dan High Politik, dalam Ulumul Quran, Nomor 2 Vol. VII, 1995.

Mulkan, A. Munir dan Syukrianto, Pergumulan Pemikiran dalam Muhammadiyah, Yogyakarta: Sippress, 1986.

Mulkan, Abdul Munir, Pemikiran KH Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah dalam Perspektif Perubahan Sosial, Jakarta: Bumi Aksara, 1990.

Noer, Deliar, The Modernist Muslim Movement in Indonesia 1990-1942, Oxford: Oxford University Press, 1990.

Noer, Deliar, Gerakan Moderen Islam di Indonesia 1900-1942,Jakarta: LP3ES, 1988.

Proyek Pengadaan Kitab Suci Alqur’an Departemen Agama RI, 1986.“Alqur’an dan Terjemahnya,” Jakarta:Departemen Agama RI .

Rais, M. Amien, Tauhid Sosial: Doktrin Perjuangan Muhammadiyah, dalam Media Indonesia, Jurnal Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta, No.1, 1996.

Rusli, M.Karim, Muhammadiyah dalam kritik dan komentar,Jakarta:Rajawali Press, 1986.

Steenbrink, Karel A. Kawan Dalam Pertikaian: Kaum Kolonial Belanda dan Islam di Indonesia 1596-1942, Bandung: Mizan, 1995.

Steenbrink,Karel A., Pesantren, Madrasah, Sekolah, Jakarta: LP3ES, 1974.

Sujarwanto, Muhammadiyah dan Tantangan Masa Depan: Sebuah Dialog Intelektual, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1990.

———-0O0———-

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Mei 2011 in Kampus UIN Jakarta

 

All About: KKN/KKS UIN Jakarta

  Read the rest of this entry »

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Mei 2011 in Kampus UIN Jakarta

 

Surat keterangan dst UIN Jakarta

SURAT PERNYATAAN MASIH KULIAH

Nomor : ET/KM.02.5/ V/ 2004

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama                           : Drs. Anas Darwis

NIP.                            : 150 236 356

Pangkat /Gol/Ruang    : Lektor / IVa

Jabatan                                    : Kepala Bagian Tata Usaha

dengan ini menyatakan bahwa:

Nama                           : Uhkamatul Khoiriyah

Nomor Pokok              : 202018201036

Jurusan /Semester        : KI Manajemen Pendidikan

Program                       : Strata 1

Tahun Akademik        : 2003/2004

adalah benar mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Wali mahasiswa tersebut adalah:

Nama                           :

NIP                             :

Pangkat/Gol.               :

Instansi                        :

Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.

 Jakarta, 8 Maret 2004

   A.n.  Dekan

 Kabag Tata Usaha,

 Drs. Anas Darwis

 NIP. 150 236 356

Tembusan :

Dekan FITK

 


SURAT PERNYATAAN MASIH KULIAH

Nomor : ET/KM.02.5/ V/ 2004

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama                           : Drs. Anas Darwis

NIP.                            : 150 236 356

Pangkat /Gol/Ruang    : Pembina (IV/a)

Jabatan                                    : Kepala Bagian Tata Usaha

dengan ini menyatakan bahwa:

Nama                           :  Ratnawati

Nomor Pokok              : 201018200694

Jurusan /Semester        : KI Manajemen Pendidikan

Program                       : Strata 1

Tahun Akademik        : 2003/2004

adalah benar mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Wali mahasiswa tersebut adalah:

Nama                           : Juwaeni

NIP                             : 130 412 508

Pangkat/Gol.               : Pembina (1V/a)

Instansi                        : Dinas Pendidikan Kec.Citangkil Banten

Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.

 Jakarta, 13 Mei 2004

   A.n.  Dekan

 Kabag Tata Usaha,

 Drs. Anas Darwis

 NIP. 150 236 356

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SURAT KETERANGAN BERKELAKUAN BAIK

Nomor : ET/KM.01.2/ X / 2003

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menerangkan bahwa:

Nama                           : Rusli

Tempat/Tgl. Lahir       : Tangerang, 22  Desember 1980

Alamat                        : Jl. Jl.KH.Wahid Hasym No.57 Rt.04/05 Jurang Mangu Tmur

                                       Pd.Aren Tangerang

adalah mahasiswa pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jurusan /Semester        : Pendidikan Manajemen / VII

Nomor Pokok              : 20018200422

Tahun Akademik        : 2003/2004

Program                       : Strata 1 (S.1)

Surat keterangan ini diberikan untuk keperluan : Persyaratan melamar Pekerjaan.

Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya kiranya pihak yang berkepentingan maklum.

Jakarta, 22 Oktober 2003

A.n. Dekan

Kepala Bagian Tata Usaha,

Drs. Anas Darwis

NIP. 150 236 356

Tembusan :

Yth. Dekan FITK

S U R A T   K E T E R A N G A N

Nomor : ET/KM.01.2/III/ 2004

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menerangkan bahwa:

Nama                           : Indaryani

No. Mahasiswa           : 20301100015

Jurusan                        : Pendidikan Agama Islam

benar telah lulus Ujian Sarjana Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, jurusan Pendidikan Agama Islam pada tanggal 5 Januari 2004.

Ijazah yang bersangkutan sedang dalam proses.

Demikian surat keterangan ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.

Jakarta, 7 Januari 2004

A.n. Dekan

Kepala Bagian Tata Usaha,

Drs. Anas Darwis

NIP. 150 236 356

Tembusan

Yth. Dekan FITK


 

 

S U R A T   K E T E R A N G A N

Nomor : ET/KM.01.2/ V / 2004

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menerangkan bahwa:

Nama                           : Apriansyah Bintang

Tempat/Tgl. Lahir       : Jakarta, 25 April 1981

Alamat                        : Jl. Komsen Kranggan Gg. H. Misan Rt. 003/06 No. 89 Pedurenan Jati Luhur Jati Asih Pondok Gede Bekasi (17425).

adalah benar mahasiswa pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jurusan                        : Pendidikan Agama Islam

Semester                      : VIII (delapan)

Nomor Pokok              : 0011017834

Tahun Akademik        : 2003/2004

Program                       : Strata 1 (S-1)

Surat keterangan ini diberikan untuk keperluan: keterangan tidak mendapat beasiswa dari instansi lain.

Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya kiranya pihak yang berkepentingan maklum.

Jakarta, 14 Mei 2004

A.n.  Dekan

Kepala Bagian Tata Usaha

Drs. Anas Darwis

NIP. 150 236 356

 


S U R A T   K E T E R A N G A N

Nomor : ET/KM.01.2/V/ 2004

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menerangkan bahwa:

Nama                           : Halimah Sa’ban

Tempat/Tgl. Lahir       :

Alamat                        : Jl. Surilang Rt/Rw 12/009 No. 33 Kel. Gedong Ps. Rebo Jakarta Timur.

adalah benar mahasiswa pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta:

Jurusan                        : Pendidikan Agama Islam

Nomor Pokok              : 1981100010

Semester                      : XII (dua belas)

Program                       : Strata 1 (S.1) Ekstensi

Tahun Akademik        : 2003/2004

Surat keterangan ini diberikan untuk keperluan: mengambil nilai mk Sosiologi Dosen Drs. A. Basuni, M.Ag.

Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya kiranya pihak yang berkepentingan maklum.

Jakarta, 12 Mei 2004

A.n. Dekan

Kepala Bagian Tata Usaha,

Drs. Anas Darwis

NIP. 150 236 356

Tembusan

Yth. Dekan FITK
S U R A T   K E T E R A N G A N

Nomor : ET/KM.01.2/IV/ 2004

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menerangkan bahwa:

Nama                           : Rosmita

Tempat/Tgl. Lahir       : Medan, 15 Agustus 1982

Alamat                        : Jl. Delima No. 44 Sawangan Depok

adalah benar mahasiswa pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Jurusan                        : Pendidikan Agama Islam

Semester                      : IV

Nomor Pokok              : 202011000972

Program                       : Strata 1 (S.1)

Tahun Akademik        : 2003/2004.

Surat keterangan ini diberikan untuk keperluan: Melamar pekerjaan.

Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya kiranya pihak yang berkepentingan maklum.

Jakarta, 30 April  2004

A.n. Dekan

Kepala Bagian Tata Usaha,

Drs. Anas Darwis

NIP. 150 236 356

Tembusan:

 Dekan (sebagai laporan)

 

 

 

 


 

SURAT KETERANGAN

Nomor : ET/KM.01.4/IX/ 2002

Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan ini menerangkan bahwa:

Nama                           : Tajul Anwar

Tempat/Tgl. Lahir       : Tangerang, 27 Juni 1981

Alamat                                    : Jl. KH. Hasyim Ashari Poris Cipondoh Tangerang

Adalah benar pernah kuliah pada Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta :

Jurusan                        : Pendidikan Agama Islam

Tingkat/Semester        : II/III

Nomor Pokok              : 0011000369

Tahun Akademik        : 2000/2001

Program                       : Strata 1 (S.1)

Surat keterangan ini diberikan untuk keperluan melengkapi persyaratan melanjutkan kuliah pada Universitas Islam Syech Yusuf (UNIS) Tangerang.

Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya kiranya pihak yang berkepentingan maklum.

Jakarta, 27 September 2002

A.n. Dekan

Pudek I,

Dr. Dede Rosyada, MA.

NIP. 150 231 356

Tembusan Yth.

Dekan Fakultas Tarbiyah.

 


SURAT KETERANGAN

Nomor : ET/KM.01.4/III/ 2003

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan ini menerangkan bahwa:

Nama                           : Tajul Anwar

Tempat/Tgl. Lahir       : Tangerang, 27 Juni 1981

Alamat                                    : Jl. KH. Hasyim Ashari Poris Cipondoh Tangerang

adalah benar pernah kuliah pada Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta :

Jurusan                        : Pendidikan Agama Islam

Tingkat/Semester        : II/III

Nomor Pokok              : 0011000369

Tahun Akademik        : 2000/2001

Program                       : Strata 1 (S.1)

Surat keterangan ini diberikan untuk keperluan melengkapi persyaratan melanjutkan kuliah pada Universitas Islam Syech Yusuf (UNIS) Tangerang.

Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya kiranya pihak yang berkepentingan maklum.

Jakarta, 27 Maret 2003

A.n. Dekan

Pudek I,

Dr. Dede Rosyada, MA.

NIP. 150 231 356

Tembusan Yth.

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta .

 


SURAT KETERANGAN

Nomor : ET/KM.01.4/IX/ 2002

Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan ini menerangkan bahwa:

Nama                           : Tajul Anwar

Tempat/Tgl. Lahir       : Tangerang, 27 Juni 1981

Alamat                                    : Jl. KH. Hasyim Ashari Poris Cipondoh Tangerang

Adalah benar sebagai mahasiswa kuliah pada Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta :

Jurusan                        : Pendidikan Agama Islam

Tingkat/Semester        : II/III

Nomor Pokok              : 0011000369

Tahun Akademik        : 2002/2003

Program                       : Strata 1 (S.1)

Surat keterangan ini diberikan untuk keperluan melengkapi persyaratan melanjutkan kuliah pada Universitas Islam Syech Yusuf (UNIS) Tangerang.

Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya kiranya pihak yang berkepentingan maklum.

Jakarta, 27 September 2002

A.n. Dekan

Pudek I,

Dr. Dede Rosyada, MA.

NIP. 150 231 356

Tembusan Yth.

Dekan Fakultas Tarbiyah.

 


SURAT KETERANGAN

Nomor : ET/PP.01.3/X/ 2002

Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan ini menerangkan bahwa:

Nama                           : Siti Maisyarah

Alamat                                    : Jl. Solo No. 124 Rt 003/04  Kp. Utan Cempaka Putih Ciputat

adalah benar telah lulus Ujian Sarsebagai mahasiswa kuliah pada Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta :

Jurusan                        : Pendidikan Agama Islam

Tingkat/Semester        : II/III

Nomor Pokok              : 0011000369

Tahun Akademik        : 2002/2003

Program                       : Strata 1 (S.1)

Surat keterangan ini diberikan untuk keperluan melengkapi persyaratan melanjutkan kuliah pada Universitas Islam Syech Yusuf (UNIS) Tangerang.

Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya kiranya pihak yang berkepentingan maklum.

Jakarta, 27 September 2002

A.n. Dekan

Pudek I,

Dr. Dede Rosyada, MA.

NIP. 150 231 356

Tembusan Yth.

Dekan Fakultas Tarbiyah.


SURAT KETERANGAN

Nomor : ET/PP.01.3/XI/ 2002

Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan ini menerangkan bahwa:

No.

Nama

No.Pokok

Fakultas

Jurusan

1.

2.

3.

4.

5.

Rahmat

Rusli

Walid Hasim

Nurul Inayah

Yuni Sasmita

0018200420

0018200422

0018200427

0018200419

0018200429

Tarbiyah

Tarbiyah

Tarbiyah

Tarbiyah

Tarbiyah

Manaj.Pendidikan

Manaj.Pendidikan

Manaj.Pendidikan

Manaj.Pendidikan

Manaj.Pendidikan

 adalah benar mahasiswa pada Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Surat keterangan ini diberikan untuk keperluan Penelitian Study Komperatif dalam mata kuliah Pemasan Jasa.

Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya kiranya pihak yang berkepentingan maklum.

Jakarta,  1 Nopember 2002

A.n. Dekan

Pudek I,

Dr. Dede Rosyada, MA.

NIP. 150 231 356

Tembusan Yth.

Dekan Fakultas Tarbiyah.

SURAT KETERANGAN

Nomor : ET/PP.01.3/XI/ 2002

Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan ini menerangkan bahwa:

No.

Nama

No.Pokok

Fakultas

Jurusan

1.

2.

Dian Yuniar

Yuni Sasmita

0018200409

0018200417

Tarbiyah

Tarbiyah

Manaj.Pendidikan

Manaj.Pendidikan

 adalah benar mahasiswa pada Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Surat keterangan ini diberikan untuk keperluan Penelitian Study Komperatif dalam mata kuliah Manajemen Sumber Daya Manusia.

Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya kiranya pihak yang berkepentingan maklum.

Jakarta,  1 Nopember 2002

A.n. Dekan

Pudek I,

Dr. Dede Rosyada, MA.

NIP. 150 231 356

Tembusan Yth.

Dekan Fakultas Tarbiyah.

 

SURAT KETERANGAN

Nomor : ET/PP.01.3/XI/ 2002

Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan ini menerangkan bahwa:

No.

Nama

No.Pokok

Fakultas

Jurusan

1.

2.

3.

4.

5.

Dian Yuniar

Fitri Konefi

Nurhidayat

Mathorhe S

Tri Suyanto

0018200409

0018200410

0018200418

0018200414

0018200425

Tarbiyah

Tarbiyah

Tarbiyah

Tarbiyah

Tarbiyah

Manaj.Pendidikan

Manaj.Pendidikan

Manaj.Pendidikan

Manaj.Pendidikan

Manaj.Pendidikan

 adalah benar mahasiswa pada Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Surat keterangan ini diberikan untuk keperluan Penelitian Study Komperatif dalam mata kuliah Manajemen Pemasaran Jasa.

Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya kiranya pihak yang berkepentingan maklum.

Jakarta,  1 Nopember 2002

A.n. Dekan

Pudek I,

Dr. Dede Rosyada, MA.

NIP. 150 231 356

Tembusan Yth.

Dekan Fakultas Tarbiyah.

SURAT  KETERANGAN KULIAH

Nomor : ET/KM.01.2/VII/ 2003

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menerangkan bahwa:

Nama                           : Nurhidayati

Jurusan                        : Pendidikan Agama Islam

Nomor Pokok              : 202011000966

Semester                      : III

Program                       : Strata 1 (S.1)

Tahun Akademik        : 2003/2004

Alamat                                    : Jl.Madrasah II Rt.04/02 No.30 Sukabumi Utara Jakarta Barat 11540

adalah benar mahasiswa pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta:

Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya kiranya pihak yang berkepentingan maklum.

Jakarta, 21 Juli 2003

A.n. Dekan

Kepala Bagian Tata Usaha,

Ulil Azmi, BA.

NIP. 150 200 985

Tembusan

Yth. Dekan FITK

SURAT  KETERANGAN KULIAH

Nomor : ET/KM.01.2/VI/ 2003

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menerangkan bahwa:

Nama                           : Hafidz Mubarok

Jurusan                        : Manajemen Pendidikan

Nomor Pokok              : 2018200684

Semester                      : IV

Program                       : Strata 1 (S.1)

Tahun Akademik        : 2002/2003

Alamat                                    : Komp. Dep.Agama Rt.01/07 No. A-28 Bambu Apus Ciputat

adalah benar mahasiswa pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta:

Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya kiranya pihak yang berkepentingan maklum.

Jakarta, 12 Juni 2003

A.n. Dekan

Kepala Bagian Tata Usaha,

Ulil Azmi, BA.

NIP. 150 200 985

Tembusan

Yth. Dekan FITK

 

 

SURAT  KETERANGAN KULIAH

Nomor : ET/KM.01.2/VI/ 2003

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menerangkan bahwa:

Nama                           : Nenek Habibah

Jurusan                        : Pendidikan Agama Islam

Nomor Pokok              : 0011000348

Semester                      : IX

Program                       : Strata 1 (S.1)

Tahun Akademik        : 2003/2004

Alamat                                    : Jl. Pahlawan Rt 01/01 No. 70 Cempaka Putih Ciputat

adalah benar mahasiswa pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta:

Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya kiranya pihak yang berkepentingan maklum.

Jakarta, 16 Juni 2003

   A.n. Dekan

Kepala Bagian Tata Usaha,

Ulil Azmi, BA.

NIP. 150200985

Tembusan

Yth. Dekan FITK


SURAT  KETERANGAN KULIAH

Nomor : ET/KM.01.2/IX/ 2003

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menerangkan bahwa:

Nama                           : Ma’anfah

Jurusan                        : Pendidikan Agama Islam

Nomor Pokok              : 201000114

Semester                      : V-B

Program                       : Strata 1 (S.1)

Tahun Akademik        : 2003/2004

Alamat                                    : Jl. Puri Intan IV No. 50 C Pisangan Ciputat Jakarta Selatan

adalah benar mahasiswa Program Ekstensi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta:

Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya kiranya pihak yang berkepentingan maklum.

Jakarta, 08 September 2003

   A.n. Dekan

Kepala Bagian Tata Usaha,

Ulil Azmi, BA.

NIP. 150200985

Tembusan

Yth. Dekan FITK


SURAT PERNYATAAN MASIH KULIAH

Nomor : ET/KM.02.5/ IX / 2003

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama                           : Drs. Zulkifli I. Noor

NIP.                            : 150 255 722

Pangkat /Gol/Ruang    : Penata Tk. I/IIId

Jabatan                                    : Kepala Sub Bagian Akademik dan Kemahasiswaan

dengan ini menyatakan bahwa:

Nama                           : Ma’anfah

Nomor Pokok              : 201000114

Jurusan /Semester        : Tarbiyah/PAI-VB

Program                       : Strata 1 (S.1)

Tahun Akademik        : 2003/2004

adalah benar mahasiswa Program Ekstensi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Wali mahasiswa tersebut adalah:

Nama                           : Sadran

NIP.                            : 130739293

Pangkat/Gol/ruang      : Penjaga SD/II-B

Instansi                        : Depdiknas

Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Jakarta, 8 September 2003

   A.n. Dekan

Kasubag Akad. Kemahasiswaan

Drs. Zulkifli I. Noor

NIP. 150 255 722

Tembusan :

Yth. Dekan FITK

SURAT KETERANGAN

Nomor : ET/KM.01.4/IX/ 2002

Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan ini menerangkan bahwa:

Nama                           : Tajul Anwar

Tempat/Tgl. Lahir       : Tangerang, 27 Juni 1981

Alamat                                    : Jl. KH. Hasyim Ashari Poris Cipondoh Tangerang

Adalah benar sebagai mahasiswa kuliah pada Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta :

Jurusan                        : Pendidikan Agama Islam

Tingkat/Semester        : II/III

Nomor Pokok              : 0011000369

Tahun Akademik        : 2002/2003

Program                       : Strata 1 (S.1)

Surat keterangan ini diberikan untuk keperluan melengkapi persyaratan melanjutkan kuliah pada Universitas Islam Syech Yusuf (UNIS) Tangerang.

Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya kiranya pihak yang berkepentingan maklum.

Jakarta, 27 September 2002

A.n. Dekan

Pudek I,

Dr. Dede Rosyada, MA.

NIP. 150 231 356

Tembusan Yth.

Dekan Fakultas Tarbiyah.

SURAT KETERANGAN

Nomor : ET/KM.01.4/III/ 2004

Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan ini menerangkan bahwa:

Nama                           : Mike Elock Faiqoh

Tempat/Tgl. Lahir       : Bekasi, 27 Januari 1984

Alamat                                    : Jl. Batu Jaya Lenggah Jaya Rt. 02/01 Cabang Bungin Bekasi

Adalah benar mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta :

Jurusan                        : Pendidikan Bahasa Inggris

Tingkat/Semester        : VI

Nomor Pokok              : 201014000662

Tahun Akademik        : 2003/2004

Program                       : Strata 1 (S.1)

Surat keterangan ini diberikan untuk keperluan : melamar pekerjaan.

Demikian surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya kiranya pihak yang berkepentingan maklum.

Jakarta, 25 Maret 2004

A.n. Dekan

Kabag Tata Usaha,

Drs. Anas Darwis

NIP. 150 236 356

Tembusan :

Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Mei 2011 in Kampus UIN Jakarta

 

Surat ke DEPAG sukabumi JABAR

Nomor : Istimewa/XI/2003

Lamp   : 2

Sifat    : Penting Sekali

Hal      : Informasi Penemuan Fakta

 

Kepada Yang Terhormat,

Kepala dan Staf

DEPAG SUKABUMI JA-BAR

Di-

Tempat

 

Assalamualaikum wr.wb.

Salam sejahtera untuk anda semua. Kemudian sehubungan dengan Kuliah Kerja Sosial (KKS) mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Agama Islam telah rampung mulai dari tanggal 24 Juli-24 Agustus 2003, kami menemukan beberapa masalah (terlampir) yang harus segera diselesaikan dengan pemerintah setempat.

Demikian karena hal ini kami anggap krusial dan pemecahannya tidak dapat diselesaikan dengan satu pihak, yakni mahasiswa KKS dan masyarakat setempat (kronologis terlampir).

Maka dengan surat informasi penemuan fakta ini kami harap bagi ketua dan staf DEPAG SUKABUMI JA-BAR untuk terjun langsung meneliti lebih lanjut kebenaran fakta tersebut demi kesejahteraan masyarakat agar tidak terakumulasi kekecewaan dan akhirnya akan terjadi konflik horizontal yang tidak diinginkan semua pihak.

Demikianlah surat ini kami buat, atas segala perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.

Wassalamualaikum wr.wb.

 

Ciputat, 03 September 2003

KKS UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

 

 

 

 

 

Erwin Mishbahuddin                                                           Nur Latifah

Ketua                                                                                   Sekretaris 

LAMPIRAN I

 

KRONOLOGIS

Sebagai agen sosial, mahasiswa mempunyai kewajiban untuk melakukan perubahan sosial dengan jalan terbaik yang di tempuh. Kewajiban ini antara lain dengan diselenggarakannya Kuliah Kerja Sosial (KKS) oleh pihak Universitas untuk terjun langsung ke masyarakat. Maka kami membentuk tim yang terdiri dari 17 mahasiswa untuk terjun ke maysarakat di dusun Babakan dan Cimbanggu Kabandungan Sukabumi Jawa Barat pada tanggal 24 Juli-24 Agustus 2003.

Dalam KKS tersebut banyak kegiatan yang telah dilakukan. Antara lain: Sunatan masal (bekerjasma dengan PT Jonshon dan Ponpes al-Husnayain); Baksos sebanyak 4 kali (pembagian uang, pakaian layak pakai, dan mie instan), mengajar di SDN Jaya Negara, MD Tarbiyatul Falah, dan lainnya; temu remaja; pembentukan tim nasyid; pembentukan panitia HUT RI; dan masih banyak kegiatan yang tidak bisa ditulis satu persatu.

Namun dalam perjalanan KKS kami, kami menemukan adanya dua keganjilan. Antara lain:

(1)       Kami menemukan tidak layaknya berbagai macam fasilitas pendidikan yang ada di Desa Kabandungan tersebut sehingga sangat mengganggu dan mempelambat proses belajar mengajar. Miris sekali dalam satu ruangan kelas diisi dengan 2 atau 3 kelas sekaligus, karena kekurangan kelas. Apalagi dengan perpustakaan yang tidak ada sama sekali, walau ada hanya diisi dengan buku-buku usang dan tidak layak pakai, dan hampir tidak ada buku bernuansa Islam.

(2)       Terdapat upaya kristenisasi pada daerah yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam. Hal ini dapat terlihat dari bebarapa dusun yang melepas agama Islamnya dengan beberapa Mie Instan dan uang berberapa ribu saja. Hal ini terjadi karena tekanan ekonomi, dan yang tidak kalah pentingnya adalah karena kekurangan guru agama. Anda bisa bayangkan dalam satu Desa Kabandungan tidak ada guru agama Islam! (Lampiran II).

(3)       Terdapat sejumlah tempat prostitusi terselubung maupun terang-terangan, dan terdapat rumor bahwa hal ini mendapat dukungan lurah setempat. Seperti di Cipeteuy dan lainnya. Astaghfirullah!

SARAN-SARAN

ketua dan staf DEPAG SUKABUMI yang terormat. Dengan melihat berbagai fakta ketimpangan sosial tersebut maka kami menyarankan:

(1)    Hendaknya dalam rangka otonomi daerah ini ketua dan staf DEPAG SUKABUMI lebih memperhatikan fasilitas pendidikan. Sebab pelajar adalah generasi penerus bangsa yang akan menggantikan kita semua. Dan hendaknya menambahkan literatur-literatur berbasis Islam.

(2)    Hendaknya ketua dan staf DEPAG SUKABUMI memperhatikan keadaan umat Islam di Desa Kabandungan. Masa Iya komunitas muslim kok tidak ada guru agamanya, sehingga terjadi banyak kristenisasi terselubung maupun terang-terangan. Tegakah anda melihat generasi Islam nanti murtad semua sedikit demi sedikit karena tekanan ekonomi dan kekurangan guru agama.

(3)    Hendaknya ketua dan staf DEPAG SUKABUMI memperjuangkan hak-hak perempuan. Sebab dengan hal itu mereka tidak akan mudah dieksploitisir demi kepentingan sesat sementara orang. Dan memberdayakan para perempuan agar tidak terjerumus pada prostitusi. Dan yang lebih penting adalah dengan supremasi hukum untuk menindak tegas MIRAS dan NARKOBA serta PROSTITUSI yang marak di sebagian wilayah sukabumi. Hal ini sebelum terlambat.

(4)    Tidak bisa banyak yang kami lakukan kecuali kritikal konstruktif kepada ketua dan staf DEPAG SUKABUMI untuk lebih memperhatikan rakyat. Perlu dicamkan, bahwa berapa banyak kejahatan dan tindak kriminal yang terjadi karena SARA dan ketidakadilan pemerintah setempat terhadap rakyat. Setelah hidup di dunia ini ada dunia lain yang akan mempertanyakan apakah usaha ketua dan staf DEPAG SUKABUMI dalam memperhatikan rakyatnya adalah usaha maksimal atau sekedarnya saja! Perhatikanlah rakyat, pehatikanlah rakyat.

 
2 Komentar

Ditulis oleh pada 11 Mei 2011 in Kampus UIN Jakarta

 

Surat Bimbingan Skripsi UIN Jakarta

Nomor: ET/PP.02.2/V/2004                                               Jakarta, 13 Mei 2004

Lamp. : Abstraksi / Outline                                               Kepada Yth,

Hal     :  BIMBINGAN SKRIPSI                                         Dr. Hj. Zurinal Z      

                                                                                      Dosen Fak. Ilmu

                                                                                      Tarbiyah & Keguruan

                                                                                       UIN Syarif Jakarta.

Assalamu’alaikum wr. Wb.

        Dengan ini diharapkan kesediaan Saudara untuk menjadi Pembimbing I/II

(materi/teknis) penulisan skripsi mahasiswa,

Nama                       :  Apriansyah Bintang

NIM                          :  0011017834

Jurusan / Semester   :  Pendidikan Agama Islam (PAI) / VIII

Judul Skripsi             : REFORMASI   PENDIDIKAN   AGAMA   ISLAM   PADA SEKOLAH (Upaya Rekonstruksi Pendidikan Agama Islam dari Ekslusivisme menuju Inklusivisme).

Judul tersebut telah disetujui oleh Jurusan yang bersangkutan pada tanggal 24 Januari 2004, dengan abstraksi / outline sebagaimana terlampir.

Bimbingan skripsi ini diharapkan selesai dalam waktu 6 (enam) bulan, yakni sampai dengan tanggal 24 Juni 2004.

Atas perhatian dan kesediaan Saudara, kami ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum wr. wb.

An. Dekan

Pembantu Dekan I

Dr. Dede Rosyada, MA

  NIP. 15023 . . . . . .

Tembusan:

  1. Dekan.
  2. Ketua Jurusan ybs.
  3. Mahasiswa ybs.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Mei 2011 in Kampus UIN Jakarta

 

Surat Permohonan jadi Nara Sumber Seminar Teroris

Nomor  : 01/pan-sem/HIMA PAI/IX/03

Lamp     : 1 (satu) Lembar

Hal         : Permohonan Menjadi Nara Sumber

Kepada Yang Terhormat

Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA.

Di –

Tempat

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera, semoga Bapak senantiasa dibawah lindungan Allah SWT. Amin.

Sehubungan dengan akan diselenggarakannya Seminar Oleh HIMA PAI (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Agama Islam) Indonesia, yang insyaallah akan diselenggarakan pada :

Hari / Tanggal      : Selasa, 21 Oktober 2003

Tempat                   : Auditorium Utama UIN Jakarta

Waktu                     : 09.00 WIB – selesai

Tema                       : Menelusuri Jejak Organisasi Jama’ah Islamiyah

                                   antara Fakta dan Fiktif

maka kami memohon kesediaan Bapak untuk menjadi nara sumber dalam kegiatan tersebut.

Demikian surat ini kami sampaikan, atas segala perhatian dan partisipasi Bapak kami haturkan terima kasih.

 

Billahitaufiq wal Hidayah

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Ciputat, 03 September 2003 M

 

PANITIA SEMINAR

HIMA PAI INDONESIA

           Rony Basty Sulistyanto.                                 Muhammad Zuhdi

          Ketua                                                                     Sekretaris

Ket:

Mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama dan gelar

Nomor  : 02/pan-sem/HIMA PAI/IX/03

Lamp     : 1 (satu) Lembar

Hal         : Permohonan Menjadi Nara Sumber

Kepada Yang Terhormat

Prof. Dr. Dien Syamsuddin

(Sekjend MUI)

Di –

Tempat

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera, semoga Bapak senantiasa dibawah lindungan Allah SWT. Amin.

Sehubungan dengan akan diselenggarakannya Seminar Oleh HIMA PAI (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Agama Islam) Indonesia, yang insyaallah akan diselenggarakan pada :

Hari / Tanggal      : Selasa, 21 Oktober 2003

Tempat                   : Auditorium Utama UIN Jakarta

Waktu                     : 09.00 WIB – selesai

Tema                       : Menelusuri Jejak Organisasi Jama’ah Islamiyah

                                   antara Fakta dan Fiktif

maka kami memohon kesediaan Bapak untuk menjadi nara sumber dalam kegiatan tersebut.

Demikian surat ini kami sampaikan, atas segala perhatian dan partisipasi Bapak kami haturkan terima kasih.

 

Billahitaufiq wal Hidayah

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Ciputat, 03 September 2003 M

 

PANITIA SEMINAR

HIMA PAI INDONESIA

Rony Basty Sulistyanto.                                        Muhammad Zuhdi

Ketua                                                                          Sekretaris

Nomor  : 03/pan-sem/HIMA PAI/IX/03

Lamp     : 1 (Satu) Lebar

Hal         : Permohonan Menjadi Nara Sumber

Kepada Yang Terhormat

Ust. Muhaimin Yahya

Di –

Tempat

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera, semoga Bapak senantiasa dibawah lindungan Allah SWT. Amin.

Sehubungan dengan akan diselenggarakannya Seminar Oleh HIMA PAI (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Agama Islam) Indonesia, yang insyaallah akan diselenggarakan pada :

Hari / Tanggal      : Selasa, 21 Oktober 2003

Tempat                   : Auditorium Utama UIN Jakarta

Waktu                     : 09.00 WIB – selesai

Tema                       : Menelusuri Jejak Organisasi Jama’ah Islamiyah

                                   Antara Fakta dan Fiktif

maka kami memohon kesediaan Bapak untuk menjadi nara sumber dalam kegiatan tersebut.

Demikian surat ini kami sampaikan, atas segala perhatian dan partisipasi Bapak kami haturkan terima kasih.

 

Billahitaufiq wal Hidayah

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Ciputat, 03 September 2003 M

 

PANITIA SEMINAR

HIMA PAI INDONESIA

Rony Basty Sulistyanto.                                        Muhammad Zuhdi

Ketua                                                                          Sekretaris

Nomor  : 04/pan-sem/HIMA PAI/IX/03

Lamp     : 1 (Satu) Lembar

Hal         : Permohonan Menjadi Nara Sumber

Kepada Yang Terhormat

Susilo Bambang Yudhoyono

[MENKOPOLSOSKAM]

Di –

Tempat

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera, semoga Bapak senantiasa dibawah lindungan Allah SWT. Amin.

Sehubungan dengan akan diselenggarakannya Seminar Oleh HIMA PAI (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Agama Islam) Indonesia, yang insyaallah akan diselenggarakan pada :

Hari / Tanggal      : Selasa, 21 Oktober 2003

Tempat                   : Auditorium Utama UIN Jakarta

Waktu                     : 09.00 WIB – selesai

Tema                       : Menelusuri Jejak Organisasi Jama’ah Islamiyah

                                   Antara Fakta dan Fiktif

maka kami memohon kesediaan Bapak untuk menjadi nara sumber dalam kegiatan tersebut.

Demikian surat ini kami sampaikan, atas segala perhatian dan partisipasi Bapak kami haturkan terima kasih.

 

Billahitaufiq wal Hidayah

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Ciputat, 03 September 2003 M

 

PANITIA SEMINAR

HIMA PAI INDONESIA

Rony Basty Sulistyanto.                                        Muhammad Zuhdi

Ketua                                                                           Sekretaris

KET:

Mohon maaf bila terdapat kesalahan penulisan nama atau gelar

Nomor  : 05/pan-sem/HIMA PAI/IX/03

Lamp     : 1 (Satu) Lembar

Hal         : Permohonan Menjadi Nara Sumber

Kepada Yang Terhormat

Menteri Agama Republik Indonesia

Prof. Dr. Said Agil Munawar, MA

Di –

Tempat

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera, semoga Bapak senantiasa dibawah lindungan Allah SWT. Amin.

Sehubungan dengan akan diselenggarakannya Seminar Oleh HIMA PAI (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Agama Islam) Indonesia, yang insyaallah akan diselenggarakan pada :

Hari / Tanggal      : Selasa, 21 Oktober 2003

Tempat                   : Auditorium Utama UIN Jakarta

Waktu                     : 09.00 WIB – selesai

Tema                       : Menelusuri Jejak Organisasi Jama’ah Islamiyah

                                   Antara Fakta dan Fiktif

maka kami memohon kesediaan Bapak untuk menjadi nara sumber dalam kegiatan tersebut.

Demikian surat ini kami sampaikan, atas segala perhatian dan partisipasi Bapak kami haturkan terima kasih.

 

Billahitaufiq wal Hidayah

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Ciputat, 03 September 2003 M

 

PANITIA SEMINAR

HIMA PAI INDONESIA

Rony Basty Sulistyanto.                                        Muhammad Zuhdi

Ketua                                                                           Sekretaris

Nomor  : 06/pan-sem/HIMA PAI/IX/03

Lamp     : 1 (Satu) Lembar

Hal         : Permohonan Menjadi Nara Sumber

Kepada Yang Terhormat

Prof. Dr. Abdul Gani Abdullah, SH

Di –

Tempat

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera, semoga Bapak senantiasa dibawah lindungan Allah SWT. Amin.

Sehubungan dengan akan diselenggarakannya Seminar Oleh HIMA PAI (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Agama Islam) Indonesia, yang insyaallah akan diselenggarakan pada :

Hari / Tanggal      : Selasa, 21 Oktober 2003

Tempat                   : Auditorium Utama UIN Jakarta

Waktu                     : 09.00 WIB – selesai

Tema                       : Menelusuri Jejak Organisasi Jama’ah Islamiyah

                                   Antara Fakta dan Fiktif

maka kami memohon kesediaan Bapak untuk menjadi nara sumber dalam kegiatan tersebut.

Demikian surat ini kami sampaikan, atas segala perhatian dan partisipasi Bapak kami haturkan terima kasih.

 

Billahitaufiq wal Hidayah

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Ciputat, 30 September 2003 M

 

PANITIA SEMINAR

HIMA PAI INDONESIA

 

Rony Basty Sulistyanto.                                        Muhammad Zuhdi

Ketua                                                                          Sekretaris

Nomor  : 07/pan-sem/HIMA PAI/IX/03

Lamp     : 1 (Satu) Lembar

Hal         : Permohonan Menjadi Nara Sumber

Kepada Yang Terhormat

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra,

Di –

Tempat

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera, semoga Bapak senantiasa dibawah lindungan Allah SWT. Amin.

Sehubungan dengan akan diselenggarakannya Seminar Oleh HIMA PAI (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Agama Islam) Indonesia, yang insyaallah akan diselenggarakan pada :

Hari / Tanggal      : Selasa, 21 Oktober 2003

Tempat                   : Auditorium Utama UIN Jakarta

Waktu                     : 09.00 WIB – selesai

Tema                       : Menelusuri Jejak Organisasi Jama’ah Islamiyah

                                   Antara Fakta dan Fiktif

maka kami memohon kesediaan Bapak untuk menjadi nara sumber dalam kegiatan tersebut.

Demikian surat ini kami sampaikan, atas segala perhatian dan partisipasi Bapak kami haturkan terima kasih.

 

Billahitaufiq wal Hidayah

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Ciputat, 30 September 2003 M

 

PANITIA SEMINAR

HIMA PAI INDONESIA

 

Rony Basty Sulistyanto.                                        Muhammad Zuhdi

Ketua                                                                          Sekretaris

Nomor  : 08/pan-sem/HIMA PAI/IX/03

Lamp     : 1 (Satu) Lembar

Hal         : Permohonan Menjadi Nara Sumber

Kepada Yang Terhormat

Prof. Dr. Malik Fadjar, MA

Di –

Tempat

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Salam sejahtera, semoga Bapak senantiasa dibawah lindungan Allah SWT. Amin.

Sehubungan dengan akan diselenggarakannya Seminar Oleh HIMA PAI (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Agama Islam) Indonesia, yang insyaallah akan diselenggarakan pada :

Hari / Tanggal      : Selasa, 21 Oktober 2003

Tempat                   : Auditorium Utama UIN Jakarta

Waktu                     : 09.00 WIB – selesai

Tema                       : Menelusuri Jejak Organisasi Jama’ah Islamiyah

                                   Antara Fakta dan Fiktif

maka kami memohon kesediaan Bapak untuk menjadi nara sumber dalam kegiatan tersebut.

Demikian surat ini kami sampaikan, atas segala perhatian dan partisipasi Bapak kami haturkan terima kasih.

 

Billahitaufiq wal Hidayah

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Ciputat, 30 September 2003 M

 

PANITIA SEMINAR

HIMA PAI INDONESIA

 

Rony Basty Sulistyanto.                                        Muhammad Zuhdi

Ketua                                                                          Sekretaris

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Mei 2011 in Kampus UIN Jakarta

 

SURAT PELIPUTAN Seminar Terorisme

 

No       : …/pan-sem/HIMA PAI/X/03

Lamp   : 1 (satu) Lembar

Hal      : Penawaran kerjasama Peliputan

Kepada Yth,

____________________

Di –

Tempat

Asslamu’alaikum Wr.Wb

Teriring do’a dan harapan semoga Bapak/Ibu senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, serta senantiasa dan sukses dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari.

Sehubungan dengan akan diselenggarakannya Seminar Menelusuri Jejak Organisasi Jama’ah Islamiyah Antara Fakta dan Fiktif” yang insyaallah akan diselenggarakan pada :

Hari/ Tanggal : Selasa, 21 Oktober 2003

Waktu              : 09.00 WIB s/d Selesai

Tempat             : Auditorium Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tema                : “Menelusuri Jejak Organisasi Jama’ah Islamiyah

                            Antara Fakta dan Fiktif”

Berkaitan dengan itu kami menawarkan kepada Media Massa baik Nasional maupun Internasional untuk dapat meliput kegiatan seminar yang kami seleggarakan. (Jadual Seminar Terlampir)

Demikian surat ini kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terima kasih.

Wasslamu’alaikum Wr.Wb

Panitia Seminar

Menelusuri Jejak Organisasi Jama’ah Islamiyah Antara Fakta dan Fiktif”

HIMA PAI Indonesia

(Himpunan Mahasiswa Pendidikan Agama)

                                                                              Ciputat, 10 Oktober 2003

(Rony Basty Sulistyanto)                                                    (Muhammad Zuhdi)

              Ketua Panitia                                                                     Sekretaris

 

 

 

 

 

Jadual acara Seminar

“Menelusuri Jejak Organisasi Jama’ah Islamiyyah Antara Fakta Dan Fiktif”

Auditorium Utama Uin Syarif Hidayatullah Jakarta

Selasa, 21 Oktober 2003

 

Pembukaan

09.00-09.10     Pembukaan + Pembacaan Kalam Ilahi

09.10-09.17     Sambutan Ketua Umum HIMA PAI Indonesia (Rony Basty Sulistyanto)

09.17-10.00     Keynot Speaker (Menteri Agama Republik Indonesia)

10.00-Selesai   Seminar  “Menelusuri Jejak Organisasi Jama’ah

                         Islamiyah Antara Fakta dan Fiktif”

 

Pembicara :

  1. Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
  2. Muhaimin Yahya (Mantan Ketua Wakalah Jama’ah Islamiyah Jakarta)
  3. Nasir Abbas (Warga Malaysia, Ketua Mantiqi II Jama’ah Islamiyah)
  4. Prof. Dr. HM. Dien Syamsuddin, MA (SekJend Majelis Ulama Indonesia)
  5. Prof. Dr. Abdul Gani Abdullah, SH (Kementrian Dept. Kehakiman dan HAM)
  6. Fauzan (Ketua Dept. Data dan Informasi Majelis Mujahiddin Indonesia)

 

———-0O0———-

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Mei 2011 in Kampus UIN Jakarta

 

Proposal Seminar: “Menelusuri Jejak Organisasi Jama’ah Islamiyah Antara Fakta dan Fiktif”

PROJECT PROPOSAL

SEMINAR

“Menelusuri Jejak Organisasi Jama’ah Islamiyah Antara Fakta dan Fiktif”

I. dasar pemikiran

Aksi terorisme yang berulangkali terjadi di tanah air dari bom pada hari Natal, bom Bali dan serentetan bom-bom lainnya sampai pada bom di Hotel JB Marriot Jakarta, yang mengakibatkan ratusan korban jiwa, yang tak berdosa, tak ayal imbas dari bom tersebut Umat Islam menjadi kambing hitam. Berbagai pernyataan dari tokoh-tokoh Islam dan para aktifis Islam merebak di media massa baik cetak maupun elektronik.

Masyarakat resah dan Umat Islampun menjadi gerah akibat aksi teror tersebut. Beribu pertanyaan bersarang di kepala, apakah benar aksi teror tersebut dilaksanakan oleh Jama’ah Islamiyah yang pertama kali dipopulerkan oleh Amerika?… Ataukah itu hanya politik luar negeri  Amerika karena takut akan kekuatan Muslim?… Benarkah ada organisasi Jama’ah Islamiyah?… Siapa sebenarnya dalang dibalik aksi teror bom?… Apa sebenarnya yang menjadi alasan kelompok tersebut melaksanakan aksi teror bom?… Benarkah dilakukan oleh kelompok Islam radikal?… ataukah merupakan startegi besar untuk mendiskreditkan Islam?… Benarkah ada orang yang berani bunuh diri karena keyakinannya?… Apa yang harus dilakukan Umat Islam?… dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab.

Aksi teror bom tersebut bukan hanya menimbulkan keresahan dan ketakutan yang luar biasa pada masyarakat, akan tetapi juga menimbulkan saling kecurigaan diantara aktifis muslim, hal yang lebih dahsyat lagi adalah munculnya fitnah-fitnah yang semakin besar kepada Umat Islam. Umat Islam dicurigai, beberapa kegiatan Islampun harus diawasi.

Dalam proses mengungkap aksi teror tersebut polisi melakukan banyak hal salah satunya penangkapan-penangkapan aktifis masjid yang di antaranya adalah alumni Afganistan dan Morro, yang kemudian menimbulkan reaksi keras dari para aktifis Islam. Demonstrasipun digelar oleh aktifis-aktifis muslim dengan masing-masing bendera organisasi.

Selanjutnya…

Terinspirasi dari pertemuan antara para aktivis Pemuda Islam dengan para 5 (lima) orang aktifis masjid yang ditangkap Polisi di POLDA Metro Jaya, pada hari Ahad tanggal 21 September 2003, pukul 13.00 sampai dengan 15.00, dimana dalam pertemuan tersebut didapat informasi yang sangat luar biasa, yaitu pengakuan kebenaran eksisnya organisasi Jama’ah Islamiyah yang sebelumnya dianggap sebagai siluman oleh kebanyakkan Umat Islam.

Selain itu pengakuan Fais (salah seorang aktifis masjid yang ditangkap) bahwa aksi teror yang terjadi di tanah air dilakukan oleh para rekan-rekannya yang mereka adalah sempalan dari Aktifis Jama’ah Islamiyah, yang sampai saat ini sebagian buron bahkan dikatakan masih tersisa bahan peledak yang siap diledakkan kapan saja dan dimana saja.

Tentunya hal ini tidak boleh terjadi lagi, apalagi Islam kembali menjadi kambing hitam teror yang merebak di tanah air. Oleh karena itu kami berinisiatif untuk mengadakan sebuah seminar yang bertujuan selain itu membersihkan nama Islam, dan meminimalisir keresahan masyarakat terutama Umat Islam. Diharapkan pula dengan adanya seminar ini Umat mendapatkan informasi sebenar-benarnya dan para aktifis Islampun tidak resah dan bergandengan tangan untuk memeranggi tersangka teror yang terjadi di tanah air.

II. Tema Seminar

Menelusuri Jejak Organisasi Jama’ah Islamiyah Antara Fakta dan Fiktif

III. Waktu dan Tempat Kegiatan

Selasa, 21 Oktober 2003, Pukul 09.00 WIB s/d selesai

Bertempat di Auditorium Utama uin syarif hidayatullah jakarta

IV. Peserta

-          Lembaga-lembaga Islam

-          Para Akademisi JaBoTaBek (Mahasiswa)

-          Aktifis-aktifis Muslim Indonesia

-          Masyarakat Umum

V. Penyelenggara Kegiatan

(lampiran I).

VI. Anggaran Biaya kegiatan

Untuk kegiatan ini dianggarkan biaya sebesar Rp. 13.136.500,00. Terbilang :  “Tiga Belas Juta Seratus Tiga Puluh Enam Ribu Lima Ratus Rupiah” (lampiran II).

Dana bantuan dapat dikirimkan langsung kepada panitia atau ke

 No. Rekening : 022 000052227 901

A/N : Basty Sulistyanto

BANK BNI Cabang Kebayoran

VII. Pembicara

Keynot Speaker          : Menteri Agama Republik Indonesia

Pembicara                    :

  1. Prof. Dr. HM. Dien Syamsuddin, MA (SekJend Majelis Ulama Indonesia)
  2. Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
  3. Muhaimin Yahya (Mantan Ketua Wakalah Jama’ah Islamiyah Jakarta)
  4. Nasir Abbas (Warga Malaysia, Ketua Mantiqi II Jama’ah Islamiyah)
  5. Fauzan Al-Anshari (Ketua Dept. Data dan Informasi Majelis Mujahiddin Indonesia)
  6. Prof. Dr. Abdul Gani Abdullah, SH (Kementrian Kehakiman dan HAM)

 

VIII. Informasi

contact Person:

  1. 081310148431 (Apriansyah Bintang),
  2. 021-8451687/08129823343 (Basty Sulistyanto),
  3. 08159690714 (Eti Shobariyah).

Email                     : almapai@boleh.com

IX. Penutup

Demikianlah proposal ini kami buat sebagai dasar berpijak dalam melaksanakan kegiatan ini.

Ciputat, 30 September 2003

PANITIA SEMINAR

“Menelusuri Jejak Organisasi Jama’ah Islamiyah

Antara Fakta dan Fiktif”

HIMA PAI

(Himpunan Mahasiswa Pendidikan Agama Islam) Indonesia

        Rony Basty Sulistyanto                                  Muhammad Zuhdi

                   Ketua SC                                                    Sekretaris

Lampiran I

Susunan panitia Seminar

“Menelusuri Jejak Organisasi Jama’ah Islamiyah

Antara Fakta dan Fiktif”

HIMA PAI

(Himpunan Mahasiswa Pendidikan Agama Islam) Indonesia

Penanggung  Jawab           : Ronny Basty Sulistianto (Ketua Umum HIMA PAI

Indonesia).

Steering Committee (Sc)

Ketua              : Rony Basty Sulistyanto (UIN Jakarta)

Sekretaris        : Muhammad Zuhdi (UIN Jakarta)

Anggota         :   – Aryani Sukma WJ (UIKA Bogor)

- Santi (UNIAT)

- Sanusi (UNIAT)

- Sofyan Sauri (UNISMA)

 

Organizing Committee (Sc)

Ketua              : Romat Mubarok (UIN Jakarta)

Sekretaris        : Dwi Bowo (Al-Ghurobba)

Bendahara       : Eti Shobariah (UIN Jakarta)

 

Divisi-Divisi

Acara              :   Apriansyah Bintang (UIN Jakarta)

Maryadi (UNIAT)

Abdul Rasyid (UMJ)

Chandra (Iprija)

Nunung (UIA)

Administrasi   :    Sity Eka Afifah (UIN Jakarta)

                             M. Hatta (UNIDA)

Asep Maulana (HAS Bekasi)

Sulistia Ningrum (IPRIJA)

HUMAS          :    Umar Wirahadi Kusuma (UIN Jakarta)

A. Saiful Hidayat (STAI Al-Aulia Bogor)

                              Diah Irawati (UIA)          

 

PUBDEKDOK  :  Hamdani (SATYAGAMA)

Ardiles (UMJ)

Sukri (UIN Jakarta)

                             Rahmat Hidayat (UNISMA)

Herlina (Laa Royba Bogor)

 

 

Jadual acara Seminar

“Menelusuri Jejak Organisasi Jama’ah Islamiyyah Antara Fakta Dan Fiktif”

Auditorium Utama Uin Syarif Hidayatullah Jakarta

Selasa, 21 Oktober 2003

 

Pembukaan

09.00-09.10     Pembukaan + Pembacaan Kalam Ilahi

09.10-09.17          Sambutan Ketua Umum HIMA PAI Indonesia (Rony Basty         Sulistyanto)

09.17-10.00     Keynot Speaker (Menteri Agama Republik Indonesia)

10.00-Selesai   Seminar  “Menelusuri Jejak Organisasi Jama’ah Islamiyah

                                         Antara Fakta dan Fiktif”

 

Pembicara :

  1. Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA (Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)
  2. Muhaimin Yahya (Mantan Ketua Wakalah Jama’ah Islamiyah Jakarta)
  3. Nasir Abbas (Warga Malaysia, Ketua Mantiqi II Jama’ah Islamiyah)
  4. Prof. Dr. HM. Dien Syamsuddin, MA (SekJend Majelis Ulama Indonesia)
  5. Prof. Dr. Abdul Gani Abdullah, SH (Kementrian Dept. Kehakiman dan HAM)
  6. Fauzan Al-Anshari (Ketua Dept. Data dan Informasi Majelis Mujahiddin Indonesia)

 

———-0O0———-

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Mei 2011 in Kampus UIN Jakarta

 

Program Kerja Dept. Skill dan Intelektual BEMJ PAI UIN Jakarta

A. MUQADDIMAH

            Sehubungan dengan diadakannya Rapat Kerja (RAKER) Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan (BEMJ) Pendidikan Agama Islam Negeri (PAI) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, maka Departemen Pengembangan Skil dan Intelektual telah mengadakan Rapat Pleno secara intensif pada tanggal 25 September 2002 hari Rabu, dari pukul 15.00 s/d 22.30 wib dengan kesepakatan-kesepakatan yang akan disebutkan di bawah ini.

 

B. PROGRAM KERJA YANG DISEPAKATI

 

I. DISKUSI MINGGUAN

  1. Frekuensi:
  • 1x / Minggu Forum Terbatas
  • 1x 2 / Minggu Forum Tidak Tebatas
  • Taman Auditorium utama
  • Aula Madya
  • Tanpa makalah/bedah buku/lain-lain
  • Perwakilan departemen masing-masing minimal dua orang, + anggota BPH minimal dua orang
  • Evaluasi Placement dalam diskusi perdana
  • Diskusi mingguan dihitung mulai hari Senin; tanggal 14 oktober  2002 s/d hari Rabu; tanggal 19 maret 2003; sebanyak 19 kali pertemuan selama masa jabatan Departemen Pengembangan Skil & Intelektual
  • Wacana edukasi
  • Wacana drove
  • Adi Wijaya
  • Husni Mubarak
  • Dialog dengan 79 mahasiswa anggota resmi (yang berpotensi keintelektualannya yang terpilih pada saat taaruf) bersama departemen skil dan intelektual pada tanggal 7 oktober 2002; pukul 13.30 wib
  1. Tempat:
  1. Sistematika:
  1. Materi diskusi:
  1. Koordinator diskusi mingguan:
  1. Lain-lain:
  1. Alokasi Dana Mingguan:
  1. Air Mineral 20.000 x 19                                           Rp. 380.000,-
  2. Snack 10.000 x 19                                      Rp. 190.000,-
  3. Kesekretariatan (undangan untuk 27 jurusan)   Rp.   15.000,-
  4. Kebersihan 10.000 x 19                                           Rp. 190.000,-
  5. Lain-lain                                                                 Rp.   30.000,-

                 Jumlah Total                                           Rp. 805.000,-

(Terbilang: Delapan Ratus Lima Ribu Rupiah)

 

II. Seminar Pendidikan I

  1. Tema:
  • Pendidikan Perspektif Agama-agama di Indonesia dan Sekuler
  1. Presenter:
    1. Alwi Sihab                           (Islam)                          Rp.    150.000,-
    2. Andreas Harepa                    (Kristen)                        Rp.    150.000,-
    3. Anand Krisna                        (Hindu)                         Rp.    150.000,-
    4. srthfxghfghdfghdfhdfhdfhdf(Budha)                 Rp.    150.000,-
    5. Frans Magnis Suseno            (sekuler)                       Rp.    150.000,-
    6. Moderator:                                                               Rp.    150.000,-

Jumlah Total                                             Rp. 900.000,-

(Terbilang: Sembilan Ratus Ribu Rupiah)

  1. Lain-lain:
  • Vandel 5 x 50.000,-                                                Rp.        250.000,-
  • Snack pembicara dan moderator                                 Rp.        100.000,-
  • Pubdekdok                                                               Rp.        125.000,-
  • Transportasi/Humas                                      Rp.        100.000,-
  • Kesekretariatan                                                         Rp.        300.000,-
  • Co-Card                                                                  Rp.          30.000,-
  • Kebersihan dan lain-lain                                           Rp.        250.000,-

Jumlah Total                                             Rp. 1.155.000,-

(Terbilang: Satu Juta Seratus Lima Puluh Lima Ribu Rupiah)

  1. Jumlah Total Biaya Seminar I (Presenter + Lain-lain)
  • 900.000 + 1.155.000 = 2.055.000,- (Dua Juta Lima PuluhLimaRibu Rupiah)
  1. Sistematika:
  • Persiapan Seminar selama 37 hari, terhitung hari Senin; tanggal 16 Desember 2002 s/d hari Selasa; tanggal 21 Januari 2003
  • Pelaksanaan Seminar Pendidikan pada Rabu 22 Januari 2003

III. Seminar Pendidikan II

  1. Tema:
  • Tentang Keagamaan (Belum Ditentukan)
  1. Presenter:
    1. Belum Ditentukan                 (Islam)             Rp.    150.000,-
    2. Belum Ditentukan                 (Kristen)                        Rp.    150.000,-
    3. Belum Ditentukan                 (Hindu)                        Rp.    150.000,-
    4. Belum Ditentukan fhdfhdfh (Budha)                Rp.    150.000,-
    5. Belum Ditentukan                      (-)                           Rp.    150.000,-
    6. Moderator:    Belum Ditentukan                                 Rp.    150.000,-

Jumlah Total                                             Rp. 900.000,-

(Terbilang: Sembilan Ratus Ribu Rupiah)

  1. Lain-lain:
  • Vandel 5 x 50.000,-                                                Rp.    250.000,-
  • Snack pembicara dan moderator                                 Rp.    100.000,-
  • Pubdekdok                                                               Rp.    125.000,-
  • Transportasi/Humas                                      Rp.    100.000,-
  • Kesekretariatan                                                         Rp.    300.000,-
  • Co-Card                                                                  Rp.      30.000,-
  • Kebersihan                                                  Rp.    250.000,-

Jumlah Total                                             Rp. 1.155.000,-

(Terbilang: Satu Juta Seratus Lima Puluh Lima Ribu Rupiah)

  1. Jumlah Total Biaya Seminar II (Presenter + Lain-lain)
  • 900.000 + 1.155.000 = 2.055.000,- (Dua Juta Lima PuluhLimaRibu Rupiah)
  1. Sistematika:
  • Persiapan Seminar selama 55 hari, terhitung hari Jumat; tanggal 31 Januari 2003 s/d hari Selasa; tanggal 25 Maret 2003
  • Pelaksanaan Seminar Pendidikan pada Rabu 22 Januari 2003
  1. Lain-lain:
  • Bekerjasama dengan KSM–Universitas Indonesia
  1. TOTALITAS finansial Seminar I dan II:
  • Seminar Pendidikan I                                                Rp.    2.055.000,-
  • Seminar Pendidikan II                                               Rp.    2.055.000,-

Jumlah                                                     Rp. 4.110.000,-

(Terbilang: Empat Juta Seratus Sepuluh Ribu Rupiah)

IV. PENELITIAN KURIKULUM PAI

  1. Sistematika:
  • Format

-         Segera Menyusul

  1. Lokasi Perbandingan, Transport dan Konsumsi:
  • UMJ                                    3.000,- x 7                               Rp.        21.000,-
  • UNJ                                    6.000,- x 7                               Rp.        42.000,-
  • UIA                         6.000,- x 7                               Rp.        42.000,-
  • Ibnu Khaldun            7.000,- x 7                               Rp.        49.000,-
  • Konsumsi                5000 x 7 x 4                             Rp.      140.000,-
  • Dokumentasi                                                            Rp.        50.000,-

Jumlah Total                                             Rp.  344.000,-

(Terbilang: Tiga Ratus Empat Puluh Empat Ribu Rupiah)

IV. LOMBA KARYA ILMIAH

  1. Lomba Karya Ilmiah terdiri dari:
  • Cerdas Cermat:

-         Antar Kelas Semester I PAI

-         Antar Jurusan; Sefakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

  • Karya Tulis Ilmiah
  1. Alokasi dana Cerdas Cermat antar kelas semester I PAI:
  • Tropi 2 buah (juara 1 dan harapan)                 Rp.     100.000,-
  • Photo Copy soal dan print                                         Rp.         3.000,-
  • Dewan Juri dan Penanya Soal                                    Rp.       20.000,-

Jumlah Total                                             Rp. 123.000,-

(Terbilang: Seratus Dua Puluh Tiga Ribu Rupiah)

  1. Lain-lain:
  • Untuk Alokasi Dana Cerdas Cermat antar jurusan; Sefakultas Ilmu Tarbiyah dan Kerguruan  akan segera menyusul

V. KLIPING KORAN

  1. Format:
  • Lomba Kliping Koran tentang isu-isu pendidikan
  • Kliping Koran di Mading dengan bekerjasama dengan LSO PAI 2002
  1. Sistematika:
  • Minimal 50 halaman dengan format kertas A4 dan dikomentari
  1. Biaya: Menyusul

 

VI. KURSUS-KURSUS

  1. Kursus yang akan diselenggarakan terdiri dari :
  • Kursus Al-Qur’an 2 Jam dengan Metode an-Nur:

-         Koordinator:  Syamsul Bahri

  • Kursus Bahasa:

-         Koordinator:  Saiful Bahri

  • Kursus Komputer:

-         Koordinator: Luqman Hakim

  • Kursus Pelatihan Guru TPA:

-         Koordinator:  Ahmad Ustuhri

  1. Sistematika:

-         Segera menyusul

 

VII. TOTALITAS Finansial Program Dept. Peng. Skil & Intelektual

  1. Dana Keseluruhan Diskusi Mingguan                              Rp.       805.000,-
  2. Dana Keseluruhan Seminar I dan II                                  Rp.    4.110.000,-
  3. Dana Keseluruhan Penelitian Kurikulum              Rp.       344.000,-
  4. Dana Keseluruhan Lomba Karya Ilmiah                Rp.       123.000,-

Jumlah Total                                                 Rp.   5.382.805,-   

(Terbilang: Lima Juta Tiga Ratus Delapan Puluh Dua Ribu Delapan Ratus Lima Rupiah)

C. PENUTUP

            Alhamdulillah, Keputusan tersebut telah disepakati melalui kesepakatan forum Pleno yang dipimpin oleh Menteri Departemen Pengembangan Skil dan Intelektual beserta Sekretaris Jenderal dan para Staf melalui ketukan palu sidang.

            Keputusan ini akan dipertimbangkan dikemudian hari dan akan diambil kesepakatannya pada forum sidang Paripurna yang akan diperkirakan dilaksanakan pada hari Senin tanggal 04 Oktober 2002 yang dilaksanakan oleh BEMJ PAI angkatan 2002-2003.

Walloh A’lam Bi ash-Showaab

 

Sekretaris Jenderal Departemen Pengembangan

Skil dan Intelektual Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan PAI

 Jumat, 27-Septemeber 2002

     Syamsul Bahri                                                       Ahmad Ustuhri

                   Menteri                                                      Sek. Jend

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 11 Mei 2011 in Kampus UIN Jakarta

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.